Hadiah Happy Coda Dari Frau
Musik,
siapa yang tak suka dan tak pernah bermusik? Bermusik tidak selalu memainkan
sebuah alat musik atau paham dengan notasi dan chord, paling tidak menyanyikan sebuah lagu meski dengan suara
parau dan terdengar seperti berbisik karena ragu mungkin suaranya tak patut
untuk diperdengarkan khalayak sudah bisa dibilang bermusik, bagi saya.
Membandingkan musik dengan film apalagi buku tentu sudah jelas berbeda dari
fisiknya hingga sarananya. Tapi ada beberapa kesamaan dalam sifatnya.
Film,
buku, dan musik memiliki sifat-sifat yang sama diantaranya sebagai sarana atau
media hiburan (termasuk kegemaran atau hobby),
pembelajaran, dan sarana penyampaian pesan. Apalagi film, barangkali masyarakt
kita secara konstruktif menyetujui bahwasanya film dibuat untuk tujuan hiburan
semata. Meskipun nyatanya film kini juga popular sebagai media pembelajaran dan
menyampaikan pesan-pesan moral. Begitupun buku tak disangkal banyak
penulis-penulis yang mencurahkan gagasan pemikirannya demi kemajuan dunia
literasi kita. Buku menjadi media utama sebagi pembelajaran (edukasi) dan
sebagai sarana menyampaikan pesan. Bahkan sering sekarang ini kita jumpai
penggabungan dua sarana ini, yakni buku dan film dalam bentuk memfilm-kan buku
atau membukukan film. Bagaimana dengan musik? Musik tak kalah fungsi sebagai
media hiburan sekaligus pembelajaran dan penyampaian pesan. Musik bahkan saat
ini melengkapi kehadiran buku dan terutama film.
Buku
dan film banyak mendapat kolom dalam berbagai media literasi (media massa baik
cetak maupun elektronik). Dalam keseharian kita bisa lihat film dan buku
bergantian hadir mengisi kolom-kolom tersbut. Namun musik sepertinya masih
sedikit kaku padahal musik adalah bagian paling alami dan paling luwes dalam
keberagaman sarana ini. Maka dengan ini saya beranikan diri untuk mengulas
sebuah album musik yang layak untuk diketahui dan didengarkan khalayak bukan
saja karena musiknya yang berkualitas tetapi lirik yang dikandung dan digubah
sang pelagu.
Leilani Hermiasih yang memilih nama dalam berlagu
Frau, seorang gadis kelahiran dan besar di Jogja. Ia belajar dan memang diuntut
untuk belajar memainkan alat musik piano oleh ibunya yang kemudian justru
menjadi alatnya untuk menusuk dada kita dengan lagu-lagu ringan tapi punya
makna dalam. Setidaknya begitu yang diucapkan oleh beberapa orang. Frau yang
mengawali debut sekitar 2-3 tahun yang lalu dengan album Starlit Carousel yang merayap menyergap telinga-telinga peka yang
mampu menangkap musik yang indah dengan pianonya, hanya pianonya.
Kini Frau kembali dengan album kedua yang dia
suguhkan dalam paket Happy Coda. Ia
pemusik dan pelagu yang tidak pernah tidak bosan dengan musik. Setelah debut ia
memiliki waktu senggang untuk tidak terlalu berurusan dengan musik terutama
panggung. Barangkali ini juga yang mampu saya tangkap dari lagu Tarian Sari
yang jadi lagu keempat dalam album. Tarian Sari saya kira menjadi wakil Frau
dalam absennya dari dunia “manggung.” Tarian Sari yang mengisahkan seorang
nenek penari yang terlihat letih menari lalu terbit kembali gairah tarinya
lantaran cucunya menarik-narik sampur Sari dan menari-nari dengan sampurnya.
Sebuah kebahagiaan sederhana yang mampu ditangkap dan dihayati Frau.
Dengan total delapan lagu yakni Something More, Water,Empat
Satu, Tarian Sari, Mr. Wolf, Arah,
Suspens, dan Whispers Frau ingin
mengemas kebahagiaan kecil yang ia rasa dan lihat (menginspirasi) kedalam
lagu-lagu ini. Happy Coda sendiri
bagi Frau tidak dimaksudkan untuk member pengertian “akhir yang bahagia atau happy ending.” Kata Coda yang merupakan
bahasa Italia berarti ekor menjalin makna sebagai pengantar ke bagian akhir.
Sehingga menurut Frau lagu-lagu ini tidak mengantarkan pendengar pada kisah
akhir dari lagu-lagu tetapi menjadi pengiring dari kisah tokoh-tokoh yang ia
temui dan imajinasikan. Seperti judul Empat Satu yang saya yakin terinspirasi
dari permainan kartu Empat Satu (cara lain memainkan kartu poker).
Frau mengemas semua lagu dengan alat musik yang
sama, piano, dan hanya piano. Dengan latar Namun, tak perlu diragukan musiknya
akan menjadi monoton dan tak nyaman atau membosankan untuk didengar. Jika tak
cukup paham dan kuat untuk mendengaran komposer kenamaan macam Mozart, Bach,
Beethoven, atau Chopin maka saya sarankan untuk menikmati musik Frau yang tak
menjadi kecil lantaran tak punya nama sebesar komposer yang sudah saya
sebutkan. Kesederhanaan dan kesahajaan musik maupun lirik atau Frau sendiri
akan membawa kita pada suasana yang santai dan kuat perasa.
Melalui album ini Frau memberikan catatan salam
mengenai proses kreatif. Ia menuliskan kebahagiaan kecil yang mungkin sering
kita lupa dan abai. Melalui catatannya pula kita tahu bahwa musik pun tak jauh
dari dunia literasi dimana menulis dan membaca pun menjadi bagian bermusik.
Akhirnya saya ucapkan selamat menikmati musik Frau dan salam dari Frau “selamat
menemukan”.
Identitas Album:
Eksekutif Produser :
Joan Miyo Suyenaga
Produser :
Leilani Hermiasih
Ko-Produser :
Yes No Wave Music
Pencipta lagu, keyboard dan vokal: Leilani Hermiasih
Lagu :
8 lagu
Ilustrasi foto :
Edwin Roseno
Pengulas : Lisvi Naelati Fadlillah,
Mahasiswi Jurusan Ilmu Hubungan Internasional penggiat
komunitas penikmat buku BOOKLICIOUS kota Malang dan Reading Group for Social
Transformatif (RGST) Kota Malang.
Musik Happy Coda bisa kamu download dari http://yesnowave.com/yesno073/
selamat menikmati persembahan dari Frau yang ku hidangkan dalam blog ini

mantaaaaaaaap :)
BalasHapushaha, dengerin lagu-lagunya mas, nyaman dikuping
BalasHapus