Mengapa Kura-kura di Puncak Ijen?
Akhir minggu ini menyenangkan buatku, tertanggal 20
hingga 23 Desember aku berkesempatan menapakan kakiku di bumi sunrise of Java Banyuwangi yang
terlanjut dengan kota-kota disekitarnya, Situbondo dan Bondowoso. Perjalanan beberapa hari ini dengan maksud
untuk menghadiri pernikahan seseorang yang kami kenal melalui kampus dengan
semangat serupa dalam waktu yang tak sama. Pernikahan Mas Hasnan Bachtiar,
seseorang yang bisa dibilang teman atau mentor biasanya. Menghadiri undangan
adalah tujuan pertama, tujuan lainnya adalah bersilaturahmi kerumah sahabat
kami, Romzatul Widad (yang namanya jika di bahasa Indonesiakan berarti
Rumus-rumus Cinta, nama yang luar biasa bukan?). bersilaturahmi ke rumah
sahabat ini bukan hanya kami berdua, namun sahabat-sahabat lain dari Malang
bersama Widad berrombongan datang ke rumahnya pada hari sabtu (21 Desember)
menggunakan bus tujuan Situbondo. Tujuan lain yang mengantarkan kami ke rumah
Widad adalah kawah Ijen yang memiliki paket keagungan Tuhan berupa blue fire (si api abadi) , the
green crater (sang kawah Ijen), dan air terjun yang entah namanya tak
kutanyakan. Air terjun tak biasa karena warna airnya berwarna hijau dengan buih
yang amat putih dan banyak membentang diatas permukaan muara terjun. Semula
kupikir ada pabrik sabun cuci diatas dan air ini terpolusi limbahnya, ternyata
warna hijau yang serupa warna limun hijau bening ini berasal dari air kawah
sehingga aroma belerang yang menyengat cukup membahayakan pernafasan dan jika menyentuh
airnya bisa saja gatal akan menghinggapi kulitmu.
Dalam
perjalanan kami sempat berhenti untuk menikmati keindahan air terjun yang
alirannya tak deras tapi cukup membuat kami semua takjub. Arinya berwarna
emerald dan pada permukaann muara air terjunnya akan tercipta buih berwana
putih sangat bersih. Melihat fakta itu membuatku berpikir konyol dan menduga
curiga bodoh yang disengaha supaya orang-orang tertawa (artikan sendiri kalimat
ini ^^) bahwa dihulu sungai ini terdapat pabrik sabun cucui piring berwarna
hijau sun*&^%# atau ada ibu-ibu sedang berramai-ramai mencuci piring dengan
sabun yang sama. Tapi sepertinya hulu sungai ini juga dekat-dekat dari kawah
karena bau airnya sangat menyengat belerang dan membuat tangan gatal-gatal. Tak
lupa momen itu pun kami abadikan dalam lusinan gambar ramai-ramai ataupun solo J.
Selain
penghematan menggunakan pondok wisata, kami pun menghemat energi dengan enggan
pergi ke mushola yang sudah ada untuk sholat tapi kami menumpang sholat di pos.
Penghematan lain yang kami lakukan adalah kami membuat makan sendiri dan tidak
beli di warung. Makanan sederhana berupa sepuluh mie instan untuk Sembilan
belas mulut dan itu sungguh nikmat meskipun biasanya aku memilih untuk makan mi
kuah ketimbang mi goring, tapi aku makan juga J.
Penghematan yang lain adalah kami memesan satu kamar mandi dengan tarif
normalnya satu kali masuk dan satu kali orang dua ribu rupiah (Rp 2000,-) yang
sama dengan tarif naik keatas kawah, kami sewa dengan harga dua puluh ribu
rupiah (Rp 20,000,-) untuk bolak-balik dan semua anggota kelompok.
Pukul 24.00
kami beranjak dari pondok dan menaruh logistik beserta aneka rupa barang-barang
lain kedalam mobil. Kami bersiap dengan mengenakan jas hujan plastic yang kami
beli dalam perjalanan disebuah pasar. Beberapa detik sebelum kami benar-benar
pergi kami sisihkan waktu untuk berdo’a untuk keselamatan kami. Dan, satu, dua,
tiga,,, kami pun dengan suka cita dan bersemangat berangkat sambil
jingkat-jingkat kaki (sepertinya itu hanya terjadi pada diriku saja, haha ^^).
Perjalanan
mulus-mulus saja, hanya ada seorang kutu loncat yang tak bisa diam terus
mengusili kami, Zakki. Entah bagaimana dia melihatku dari belakang dan
memanggilku Pinguin, ah dasar Zakki, hiu kurus. Zakki terus melompat
kesana-kemari dan menarik pergi siapa saja yang meladeni. Berbekal sebuah
gagang payung yang putus ia menarik-narik siapa saja dengan pangkal gagang
payung yang melengkung. Dia melaju terus bersama Widya dan entah bagaimana
Trisna dan Lukman pun bersama mereka. Kehadirannya meramaikan pendakian kami.
Sebelum kami turun pulang, sempat kami mengambil beberapa foto duduk dibelakang mobil. Saat itu aku sadar jika celana Zakki belang seperti seseorang yang mengompol. Ternyata usut punya usut ketika pendakian ia menaruh minyak tawon dalam sakunya, dan parahnya minyak tawon itu tak bertutup dan dalam keadaan terbalik. Jadilah seluruh isi minyak tawon dalam botol berpindah ke celana Zakki yang membuatnya merasa panas luar biasa diarea “itunya.”
Zakki
kembali mengambil posisi biasa, dibelakang kemudi yang penumpangnya perempuan
semua. Disebelahnya ada Widya dan Shanah. Tepat dibelakang Shanah ada Trisna
bersebelahan denganku disebelah kanannya, disusul Epo dan Rara disebelah
kananku. Lalu dikursi belakang ada Inem, Aulia, mba Ferdian, dan mba Fitri. Sedangkan
pick up dimasteri oleh Irul dengan
Zen dan Widad selaku juragan duduk disebelahnya. Dibagian bak, diisi penumpang
setia mas Hendro, mas Arva, mas Rurin, Nurul, dan Lukman beserta barang bawaan
kami.
Tanggal 20
aku bersama sahabatku bertolak dari stasiun Malang menuju Banyuwangi pukul
15.00. mengulang adegan dalam drama-drama televisi yang memaksa, kami
mengejar-ngejar kereta Tawang Alun yang hampir meninggalkan kami. Ini
perjalanan keduaku menggunakan kereta ke arah Surabaya, biasanya aku
menggunakan kereta kea rah Jakarta untuk pulang kampong. Masih serasa drama,
aku memandang dari balik jendela pemandangan yang belum pernah kusaksikan dalam
kereta perjalanan pulang kerumah. Ada petani bunga mawar, sedap malam, dan
entah apa lagi tak jelas pandanganku. Lalu ilalang atau lebih mirip rumput teki
yang sedikit tinggi berbunga, seperti bunga ilalang atau gandum. Berwarna putih
dan menyebar dalam tanah tanpa garapan. Hamparan ini membuaiku, “ah, ternyata
perjalanan melalui jalur ini tak kalah indah.” Pemandangan adalah salah satu
alasanku mencintai berkendera dengan kereta ketimbang bus atau mobil.
Pukul 22.00
kurang lebih saat kereta kami berhenti di stasiun Karangasem, satu stasiun
sebelum pemberhentian kereta terakhir di stasiun Banyuwangi Baru yang katanya
tak jauh dari pelabuhan Ketapang. Kami dijemput oleh sahabat kami dari
Banyuwangi, diantarkan ayahnya yang duduk didepan kemudi dan adiknya, Yayan
(asal kamu tahu, Rima bingung bagaimana aku tahu nama adiknya, padahal ia belum
mengenalkan. Dia belum tahu kalau aku lebih cepat akrab dengan anak kecil dari
pada dengan orang-orang yang mengaku dewasa) duduk disebelah sang pengemudi
yang tak lain adalah ayah Rima, sahabat kami dari Banyuwangi itu.
Dirumahnya
kami disambut dengan hangat (pun dalam arti sebenarnya, karena saat kami tiba
suda tersedia teh hangat diatas meja untuk kami reguk selepas perjalanan yang
lumayan panjang itu). Ibu Rima sangan grapyak
atau ramah, bahkan beliau kemudian memasakan makanan untuk kami santap. Setelah
selesai dengan makanan kami, kami pun diajak untuk kerumah tepat diseberang
rumah ibunya Rima. Rumah nenek yang juga Rima tinggal didalamnya. Kami
mengobrol hingga larut, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengenakan piama
yang disediakan Rima pada kami. Jujur aku agak malu mengenakan piama itu,
selain warnanya yang sangay lembut tetapi juga model bentuk dan gambar piama
itu yang terlalu imut, aku merasa tak percaya diri untuk tampil seimut itu
untuk pergi tidur. Hehe.
Paginya teh
hangat kembali menyambut kami, dan sarapan dengan nikmat (ini masakan seorang
ibu man, dan bukan ibu warung
tentunya). Tentu saja kami sudah mandi sebelum sarapan, jadi ketika sarapan
berakhir kami siap untuk berkeliling di kampung halaman Rima. Dia akan mengajak
kami ke danau dan pantai dekat rumahnya dia bilang. Pukul Sembilan kami pergi
ketempat yang Rima maksud, Rima dan Aulia (ah, aku lupa menyebutkan namanya
dari awal, sahabt seperjalanan ke Banyuwangiku) mengndarai sepeda motor
berboncengan dan aku memilih, tada...sepeda gowes. Pilahanku memakai sepeda
gowes berujung pada tiga hal: menyenangkan, melelahkan sampai membakar wajahku
merah kehitaman, dan menyenangkan J. Kami
benar-benar pergi ke danau yang dimaksud Rima (yang sebenarnya rembasan air
laut digalian atau lubang-lubang), dan sangat cantik. Mengambil latar
danau-danau mini itu kami berfoto, mengambil gambar mengukir senyum dan memaku
pose sambil berupaya memerangkap lansekap gunung Ijen pula.
Gagasan ke
pantai juga memojokanku pada tiga hal: ini gagasan yang benar, ini gagasan yang
keliru, dan ini gagasan yang benar sekali. Kuanggap benar karena kubayangkan
pantai yang juga merupakan selat Bali ini memiliki pasir putih dan bersih dengan
angin yang dilenggokkan nyiur-nyiur dan pepohonan bakau menyejukan dan
mendamaikan. Ini gagasan keliru, karena ternyata pasirnya hitam sehingga airnya
pun terlihat gelap, belum lagi jarak yang mesti kutempuh dengan mengayuh yang
lumayan, piuh...membelangkan wajahku merah hitam membara. Ketiga, ini gagasan
yang benar, karena mengapa harus menyesal mengalami waktu yang indah dengan
bersepeda di jalanan antara sawah yang luas (sebelum sampai ke danau ada sawah
yang cukup luas untuk kami lewati), melihat danau nan indah dengan sebuah pohon
sengon berdiri ditengahnya, dan melihat pantai yang tak ada manusia lain selain
aku dan Aulia (karena Rima lebih memilih menunggu). Jdilah wajahku menghitam
merah membelang, belum keringat yang menambahkan efek ngenes hingga berulang kali Aulia dan Rima bersilih menawarkan
untuk bergantian mengayuh sepeda- mereka sepertinya tak tega melihatku
sedemikian rupa kepayahan- tapi aku menolak sampai kembali di rumah Rima.
Dzuhur
menjelang, waktunya kami buat bersiap-siap ke rumah mas Hasnan. Ayah Rima
kembali mengantar kami, ke rumah mas Hasnan tentu saja. Yayan setia dikursi
kiri sebelah kemudi dan Abid (kakanya Yayan, adik Rima) duduk dikursi paling
belakang membantu sang Ayah memantau jalanan. Belum lama kami keluar dari gang
hujan deras pun mengguyur. Ah, bagaimana jadinya jika kami harus bersepeda
motor? Thanks God. Rumah mas Hasnan
ternyata masuk gang kecil, cukup susah bagi ayah Rima memarkirkan mobil. Kami
bertiga pun langusng disuguhi makan siang, basa-basi hanya sekedarnya dan
sekedar salaman. Merasa cukup lama meninggalkan ayah Rima, Yayan dan Abid kami
pun beringsut hendak pamit pulang. Meminta satu momen untuk diambil gambar
bersama sang pengantin, kami pun masuk kedalam rumah. Dan benar-benar langsung
pamit pulang setelah merapatkan barisan untuk difoto.
Sampai sekamir
pukul tiga sore dikediaman Rima kami pun berganti baju dan sholat Ashar. Tak
ada waktu mandi lagi, hanya mengemas barang-barang (atau tepatnya baju-baju)
kedalam tas untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Widad di Bondowoso. Sekamir
pukul empat sore kami pun berpamitan pada ibu Rima dan ayahnya. Tak diantar
ayahnya (karena ayah Rima ada rapat di sekolah) kami pergi ke terminal
Banyuwangi dengan diantar Rima dan Abid menggunakan sepeda motor. Hujan kembali
megguyur kami, perjalanan ke terminal pun tak luput basah kuyup.
Tak ada bis
yang bisa mengantarkan kami ke terminal Situbondo di terminal Banyuwangi.
Jembatan di Situbondo yang putus menjadi penyebab banyaknya keberangkatan dan
kedatangan dari dank e SItubondo Probolinggo atau Malang menjadi terganggu.
Pilihan yang ada menunggu bis jam lima sore yang kabarnya gagal singgah di
terminal Banyuwangi, atau menunggu bis jam tujuh malam -yang katanya bis
terakhir- tapi tak ada yang menjamin sang bis benar-benar datang, atau jam enam
pagi besok. Alamak ... pikirku,
rencana bisa berantakan. Voila, ternyata
ada alternative kepepet. Kami bisa naik angkot sampai terminal ketapang untuk
dilanjutkan naik bis ke terminal Situbondo. Ada ragu sejenak diantara kami,
terutama Rima yang sama sekali tak kepikiran dan membayangkan resiko perjalanan
ini. Kami pun nekat mengikuti jalur ini. “Pak nitip teman-teman saya ya pak”
begitulah kiranya ucap Rima kepada salah satu penumpang yang duduk disamping
pak supir angkot. Rima khawatir lantaran pak supir sempat menyebutkan
preman-preman yang mungkin banyak ditemui di terminal ketapang. Tapi tidak
ternyata, kami pun melaju aman menyisiri the
sunrise of Java land.
kami sampai
di terminal ketapang selepas beberpa menit adzan Maghrib. Angkot yang biasanya
bertarif lima ribu naik mendadak menjadi lima belas ribu. Tak apalah yang
penting perjalanan aman dan samapai. Bersama bapak-bapak diangkot menuju
terminal Ketapang, kami dua-duanya (bukan satu-satunya) perempuan. Sempat
takut, namun guna mencari aman aku pun mengajak ngobrol salah satu penumpang
dihadapanku. Ternyata si bapak hendak pulang ke Malangsetelah menjuri kejuaraan
Tapak Suci di Banyuwangi tapi mampir ke Situbondo, kerumah kakaknya. Wah, ternyata aku bersama pendekar rupanya.
Bis tujuan
Situbondo tepat dihadapan kami dan siap berangkat. Aku bersama Aulia dan bapak-bapak
pendekar (dua orang jumlahnya) pun langsung mendudukan badan kami dikursi
masing-masing. Berhubung bis masih sangat lengang kami pun duduk di kursi
terpisah. Tapi tak menjadi hambatan kami untuk saling bertukar guyon. Bapak pendekarnya menjamin perjalanan
kami sampai ke Situbondo. Haha seru nian.
Aku
terheran bagaimana bumi Jawa Timur sepertinya hanya milik dua suku, Jawa dan
Madura. Disetiap titik bis ini mengangkut penumpang rasanya semua berbahasa
Madura. Kami heran bagaimana Madurish berdiaspora hingga katanya sampai ke
Rusia (kata bapak pendekar dibelakangku yang tak lain pun keturunan Madura).
Perjalanan ke Situbondo benar-benar melelahkan dan tak mampu kami lawan kantuk
yang menggantungi kelopak kami, khususnya aku sendiri. Bis makin penu sesak
dengan bahasa Madura yang mengudara memenuhi pendengaran kami. Ah, ternyata bis ini tujuan akhirnya ke
Madura, sang bis Akas.
Sampai
kira-kira jam sepuluh di terminal Situbondo. Bapak pendekar dibelakangku pun
langsung pamit setelah orang yang menjemputnya datang. Bapak pendekar satunya
masih menunggu bis ke Bondowoso, dan menemani kami sampai dijemput (bapak yang
bersikeras dan saling lempar tanggung jawab karena merasa dititipi oleh Rima,
jadi ia merasa berkewajiban menunggui kami benar-benar aman samapai dijemput).
Tapi kami memilih untuk menghentikan kerepotan ini, kami pun berpamitan pada
bapak pendekar untuk pergi ke Masjid dan mengaku akan dijemput dan bertemu
teman-teman dari Malang disana. Resmi kami pamit dan pergi ke masji yang aku
lupa namanya.
Tak
menunggu lama kami pun langsung masuk ke masjid dan mengambil wudlu di kamar
mandi. Sholat Isya dan Magrib kami rapel. Kantuk tak menyemangatiku menunggu
yang lain atau jemputan datang. Aku pun tertidur di masjid, sedang Aulia
memilih untuk terjaga dan menjagaku sambil terus mengabari Rima perkembangan
perjalanan kami (Rima bilang takkan tidur sebelum kami sampai di rumah Widad).
Aku benar-benar pulas, sambil sesekali membuka mata dan mendapati Aul sedang
makan snack aneka rupa yang ia bawa.
Meski lapar aku benar-benar dikalahkan oleh kantuk dan menolak tawaran ngemil didalam masjid. Jam sebelas Irul
(kuketahui namanya setelah kenalan) datang sebagai utusan Abahnya Widad
menjemput kami.
Kami
menunggu rombongan dari Malang datang, dan tak lama berselang mereka
bernar-benar Nampak dihadapan kami dengan muka yang amat sangat kacau setelah
perjalanan yang amat menjemukan ditemani hujan, jembatan putus, macet,
kelaparan dalam posisi terjebak macet, dan waktu yang molor lamar. Tada,,, mobil yang dibawa Irul takkan
sanggup membawa kami semua. Pick Up
yang dituani Abahnya Widad pun meluncur siap mengangkut separuh dari kami
bersama barang-barang bawaan. Perempuan-perempuan didalam mobil sedang beberapa
memilih naik pick up bersama para
lelaki.
Disambut
dengan amat ramah dan membuat rumah tiba-tiba repot kami pun sampai di rumah
Widad. Makan malam telah siap kami lahap, dan tanpa malu-malu atau sungkan kami
pun (khususnya saya) tak menyediakan banyak waktu untuk mengabaikan makanan.
Sudah sholat dan sudah makan, tak ada alasan untuk menunda kantukku diambang
pintu, langsung saja kusongsong dan sambut datangnya tidur.
Tidur
ditepi ranjang membuatku tak nyaman, rasanya hampir jatuh dan was-was jika
sampai menimpa So’ep atau Inem yang tidur di kasur dibawah. Belum lagi
berisiknya kresek yang terus digesek ditengah malam yang badan rasanya remuk
dan ngantuk sangat dikatator membuatku pindah ke sofa memilih tidur sendirian.
Ternyata tak bisa langsung terpejam mataku, dan giliran pagi harinya aku yang
mendapat protes lantaran terus membuat suara-suara berisik diatas sofa. Haha, maaf,,, tak maksud.
Ada bagian
yang lupa kuceritakan. Kami merubah rencana untuk naik ke Ijen malam itu juga.
Ummu Widad menganjurkan kami untuk menundanya besok malam. Bukan hanya karena
kelelahan yang menimpa kami, tapi juga hujan yang sepanjang hari membuatnya
cemas jalanan ke atas akan becek dan membahayakan kami semua. Perdebatan pun
tak terhindar, buatku menyebalkan saja tak bisa sesuai rencana. Ada yang
membuatku resah jika senin aku tak bisa samapai di Malang, dan part time hanya
alasan kenapa aku bersikeras untuk naik malam itu juga. Well, kami sepakati malam itu kami istirahat saja dan perjalanan ke
kawah Ijen besok siangnya sekalian menyiasati waktu supaya cukup untuk kami
pergi ke Balurang.
Pagi-pagi
ummunya Widad menyiapkan sarapan dan duduk memberikan nasehat untuk perjalanan
kami. Seketika aku ingat hari itu adalah hari ibu, 22 Desember. Secara spontan
kuucapkan “selamat hari ibu ya bu...” dan yang lain pun mengekor bersautan
mengucapkan. “pas hari ibu kok tiba-tiba anaknya banyak ya bu..” aku nyeletuk
lagi. Aku merasa senang meski aku tak mampu dan tak bisa mengucapkan kata-kata
macam itu untuk ummi, ibuku sendiri.
Seusai
sarapan yang dihelat setelah mandi, kami pun bersiap menuju Taman Nasional
Kawah Ijen yang merupakan wilayah perbatasan Banyuwangi dan Bondowso. Logistik,
perbekalan tiap diri, dan semua yang kiranya bisa berguna kami siapkan. Jam
sebelas kami berangkat dengan diiringi gerimis yang cukup membuatmu basah kuyup
berdiri dibawahnya dalam lima menit. Perempuan-perempuan didalam mobil sedang
tas-tas kami dan para lelaki menaiki kembali pick up yang tampak keren dengan penutup dari deklit. Hujan tak
menjadi halangan kami, kami pun terus melaju menjuj Taman Nasional Kawah Ijen.
Selama
perjalan naik sapai pos pertama pendakian kurang lebih ada tiga pos yang kami
lewati. Pos pertama di Jampit, yang kedua sepertinya sebelum memasuki
perkampungan, dan yang ketiga sepertinya (lagi) sebelum kami mengikuti jalan
berkelok dan berkabut yang akan menyuguhkan pula pemandangan elok dengan bonus
air terjun hijau dan putih.
![]() |
| Air Terjun emerald (ngarang aja sih yang ini), hijau bening dan putih berbuih |
Setelah
cukup puas kami pun melanutkan perjalanan. Sampailah kami di pos pertama
pendakian, jadi kami harus memarkirkan kendaraan kami. Kami melarikan diri ke
pondok wisata, sebuah pondok yang disediakan bagi wisatawan dan it’s free. Kami diminta laporan ke pos,
menyatakan berapa jumlah rombongan kami dan akan sampai kapan disana. Untuk
bisa naik ke atas kita cukup membayar dua ribu rupiah (Rp 2000,-) per orang
lokal dan lima ribu rupiah (Rp 5000,-) untuk wisatawan mancanegara. Oh ya, di
pos-pos sebelumnya pun kami harus melapor. Hanya kami cantumkan sebuah nama dan
plat kendaraan kami yang diperlukan dalam setiap laporan.
![]() |
| Pos Penakian, tempat kami harus memulai berjalan :D |
Kami
menunggu hingga pukul dua belas malam (24.00) di pondok wisata untuk mendaki ke
kawah demi menangkap keagungan pemandangan blue
fire atau si api abadi. Tapi gerimis kembali mengiringi kami sedang udara
mulai sangat dingin. Jam sebelas kami berkemas dan siap-siap pergi ke atas
samapai ada seorang petugas menghamipiri pondok dan menganjurkan kami untuk
berangkat setelah pukul dua belas malam. Oh ya, di pondok ada kelompok lain
yang juga akan naik, tapi kami tak sempat berinteraksi atau sekedar saling
menyapa.
![]() |
| didalam pondok wisata, mengisi waktu menunggu malam. |
Baru satu
tanjakan kami lewati tiba-tiba mba Fitri kenapa-kenapa (kan biasanya orang
Tanya keadaan yang lainnya dengan bilang “kamu gak kenapa-kenapa?”), karena
kami pun tak bisa mendiagnosis dan menduga apa yang sebenarnya ia rasakan. Ia
kami rebahkan dan mulai memberikan pertolongan pertama berupa menggosok
badannya dengan aneka minyak-minyakkan (minyak tawon dan minyak kayu putih).
Perdebatan pun berlangsung untuk memutuskan akankah kami harus menghentikan
perjalanan memilih untuk kembali kebawah dan membatalkan pendakian atau
melanjutkan pendakian tanpa mba Fitri dan mas Hendro (sang kekasih, ciye,,,ciye).
Tapi kami akhirnya memilih untuk melanjutkan pendakian.
![]() |
| dari kiri: Lukman, Widya, Zakki (dengan gagang payungnya), aku, dan Rara |
Aku dan
Rara mengejar mereka yang paling depan, Zakki, Widya, Trisna, dan Lukman. Widad
yang tadinya bersama kami pun tertinggal. Jadilah aku hanya berdua dengan Rara
dan sejenak menikmati lingkungan yang begitu teramat indah. Langit tampak tak
terllau bersih dengan awan-awan kelabu yang berarak ringan sehingga
bintang-bintang tak Nampak terang dan banyak. Tapi bulan, entah bagaimana
menemukan kami dalam sarungnya. Membuat jalanan dan lingkungan yang tak lain
gunung-gunung yang tak bernama atau kami saja yang tak tahu namanya, mampu kita
lewati tanpa bantuan senter atau penerangan apapun selain lembut cahaya sang
bulan. Suasananya begitu syahdu, hingga angan kami melayang saling membayang
bagaiaman jika perjalanan ini dilakukan berdua dengan sang belahan jiwa. Ah,
syahdu, hanya kata itu yang mampu kuukir.
Sesampai
kami di puncak, dapatilah kami sosok tubuh yang merebahkan diri menengadah
menghadap langit langsung kearah kawah, Zakki, Lukman, Widya, dan Trisna. Kami
pun bergabung merebahkan diri, dan datanglah Nurul, Zen, dan Widad dibelakang
kami. Kami sempat pula mengabadikan kelelahan yang kami suap dengan merebah
itu. Ah, syahdu lagi yang mampu kurasakan selain hawa dingin yang mulai
merangkak naik ke tengkuk.
Kawan-kawan
lain pun berdatangan. Kami turun untuk menangkap keagungan Tuhan dalam ingatan
kami, sang api abadi si blue fire.
Namun sayang, entah bagaimana sepagian kami disana blue fire sedang tak Nampak gagah, nyalanya serupa ceplik atau
lampu minyak teplok. Sedikit kecewa sebuah celetukkan keluar dari mulut ini
“wah,,,lebih terang dari lampu akuariumku.” Tapi tetap saja tak bisa dan tak
boleh ku pungkiri blue fire yang
tampaknya tak lebih besar dari nyala ceplik dari atas sini tetap indah, belum
kutemukan ditempat lain ada keindahan semacam ini.
![]() |
| Blue Fire dalam keadaan prima dan difoto dari bawah, ini bukan foto kami. |
Mengambil
gambar adalah hal yang rupanya seolah menjadi kewajiban. Namun, aku sedang
merasa enggan dan memilih duduk berhadapan- dengan seorang penambang yang akan
turun sedang beristirahat. Aku bercakap-cakap sampai akhirnya Shanah bergabung
dalam obrolan kami. Aku pun berpindah duduk disebelah si bapak dan diikuti
Shanah setelah si abapak menawari kami. Baru ku tahu ternyata bapak yang duduk
beristirahat dibalik sebuah batu besar ini bukan suatu kebetulan. Batu besar
dipilih karena ternyata mampu menghalau angin gunung yang hendak turun dan
minta gigil tubuh. Aulia dan Tari bergabung turun bersama kami duduk dibalik
batu setelah si bapak kembali melanjutkan perjalanan. Sebelum aku merebah untuk
menidurkan badan, aku turut bergabung dengan teman-teman untuk berpose didepan
kawah yang masih gelap hanya dihiasi gumpal-gumpal asap yang mengepul. Shanah
dan Aulia turut pula. Kami berpose bersama.
Shanah dan
Epo mengambil posisi disebelah kanan di balik batu tadi. Tempat yang paling
memungkinkan untuk menghalau angin karena posisi batu yang lebih tinggi dari
sisi sebelah kiri yang dihuni Aulia dan Tari. Sedang aku terombang-ambing
bingung memilihi tempat yang nyaman dan aman, tapi nihil. Aku pun memutuskan
berkelana mencari yang lain. Kulihat ada satu kelompok yang sedang membuat
minuman hangat dari kompor portable,
kupikir itu mereka tetapi setelah kulayangkan sebuah sinar dari headlampku ku sadar merka bukan
teman-teman yang kucari. Aku mencari Irul yang sebelumnya tidur berselimut
sarung diatas pagar jalanan menurun menuju kawah, tapi ia sudah tak disana. Aku
melanjutkan jalan sampai aku bertemu Nurul dan Mas Arvan yang sedang melihat
kura-kura berwarna kuning dalam genggaman seorang penambang. Mas Hendro
menghamipiri kami dan berpamit akan turun lebih dahulu karena Zakki tak kuat
menahan dingin lantaran luka kaki yang pernah patahnya meminta perhatian lebih
dalam hawa dingin.
Aku
mengambil satu kura-kura dan stalaktit, menukarkannya dengan uang sepuluh ribu
rupiah (Rp 10,000,-). Mas Arvan mengambil satu kura-kura, Nurul menjadi
penonton saja. Hawa dingin sudah tak mampu kutahan, dan aku kembali ketempat
teman-teman berusahan sebisa mungkin menghangatkan badan bersembunyi dibalik
batu seperti udang. Ah, ada teman-teman dibalik batu rupanya pikirku setelah
ada kura-kura diatas kawah Ijen.
Widad
berada ditengah bersama Rara diantara Shanah dan Epo disebelah kanan serta Tari
dan Aulia disebelah kiri. Ada Zen dan Nurul duduk menghadap kawah. Aku salah
tingkah harus bagaimana menghadapi angin yang menusuk ini. Berbaring memeluk
kaki Shanah dan Epo memang membantu menghangatkan mereka, tapi aku terpapar
pada angin yang sedang bersemangatnya lari turun kebawah. Sebelumnya aku pun
duduk diam diatas batu yang menghalau si angin dari teman-temanku dibawah, aku
menahan gigil dan gemletuk gigiku. Jam lima pagi, aku pun memilih duduk bengong
memeluk lututku sendiridemi sedikit kehangatan. Ada perempuan Korea dari atas
meminta botol yang ada disebelah Epo. Aku ulurkan, ternyata mereka membuat api
dari botol-botol plastik yang dikumpulkan. Aku pun memungut beberapa botol dan
bergabung bersama mereka membakar botl yang kubawa. Aku heran bagaimana mereka
tahan dengan asap yang menguar dari plastic yang dibakar. Tangan memang sedikit
merasa hangat, tapi punggungku langsung berhadapan dengan sang angin yang cari
ribut itu. Beberapa temanku ternyata bergabung dalam lingkaran sampai akhirnya
si api benar-benar mati.
Kami
kembali ke tempat semula, aku berdiri berpelukan dengan Widad dibelakangku,
mencoba merayu kehangatan untuk bersama kami. Shanah bergabung didepanku, aku
memluknya dan memasukkan tanganku kedalam saku jaketnya. Widad beringsut
mendekat bersama Zen, si adik. Aku dan Shanah duduk berelonjor masih saling
memeluk. Dingin membuatku tak mampu membuka mata. Kubenamkan kepalaku kepundak
Shanah dan kurasakan kepala seseorang mendarat bersndar dikelaku, mas Arvan
rupanya. Sampai langit benar-benar terasa lebih cerah kami pun bersepakat untuk
menyongsong sunrise.
Kami
kembali ketitik kedatangan kami semalam merebah membaringkan lelah sesampai di
puncak. Orang-orang sudah ramai, dan kami mulai melakukan kewajiban
mengabadikan momen dengan bersenjata kamera kantong milik Epo, si putih, dan
kamera kantong milik mas Arvan dan kamera ponsel Widad. Pose-pose andalan pun
kami (Epo, Shanah, Aulia, Widad, Tari, Aku, Rara, mas Arvan, Nurul, Irul, dan
Zen) keluarkan –kasian Irul dan Nurul dapat banyak giliran moto ketimbang
difoto- hehe. Bebarapa teman yang tidak sempat ikut mengumpulkan kenangan
tersiram sinar mentari pagi diatas kawah Ijen itu Mas Hendro, Mba Fitri, Widya,
Zakki, Trisna, Lukman, mas Rurin, dan mba Ferdian. Paling suka aku kalau foto
ada Zen, dia Nampak murung seringkali. Jadi aku akan mengatakan padanya
“Zen,,,senyum!” dan tanpa menunggu waktu lama Zen pun akan mengepakan senyumnya
yang lebar dan manis. “nah,,,kalau senyum kan manis, hehe.”
Sudah
merasa cukup mendapatkan banyak gambar dan takut membuat teman-teman menunggu
lama dibawah, kami pun memutuskan turun. Aku bersama Epo, Rara, Widad, Tari,
Nurul dan Irul berjalan didepan. Sepanjang jalan kami habiskan untuk saling
mengenal bahkan diri kami sendiri. Ada kejadian yang lekat kuingat ketika Tari
mulai berjalan meluncur didepan kami. Aku melihat seekor monyet sedang
bertengger diatas dahan sebuah pohon yang tak terllu tinggi dan tak besar
serupa pohon kersen. Aku langsung meneriakan nama Inem (panggilan untuk Tari).
“Inem,,, ngapain kamu disana, ayo turun” sambil berulang mengucapkan kalimat
itu dengan diiringi derai tawa beberapa teman dan orang-orang yang berpapasan
masih tak paham denganku. “Inem,,, loh, mau kemana kamu kok tumben malu-malu.
Jangan pergi” kalimat guyon lain kulontarkan setelah si monyet beranjak.
Teman-teman yang lain pun tertawa menyadari kelakuanku. Beberapa bule pun ikut melihat kearah aku
memanggil inem dan ikut memanggil Inem (menyangka si monyet itu adalah Inem)
sedang si Inem yang sesungguhnya mengataiku gila sambil terus berjalan cepat
menuruni turunan yang berkelok dibawah.
Mungkin
kamu takkan tahu jika aku tak memberitahu, sini kubisikan “selama perjalanan
pulang pemandangan dihadapan kami sungguh menakjubkan, seperti ku bilang,
syahdu.” Di kiri kami terbetang Banyuwangi dan Bali (yang kalau malam
lampu-lampunya panjang serupa kereta), dan gunung-gungung yang entah apa
namanya dengan awan serendah milik Dragon Ball. Awan yang putih bersih
memintaku untuk mengulumnya dan tak rela jika habis lumer.
![]() |
| gunung-gunung yang entah apa namanya, daebak ^^ |
Inem pun
pergi mendahului kami semua dan sampai di pos sebelum kami semua. Kami berhenti
disebuah saung menunggu rombongan dibelakang kami tiba sambil beristirahat. Si
Irul berkata kalau ini adalah perjalanan penuh derita. Naik menderita turunpun
menderita. Lalu kutambahi “diatas pun menderita ya Cuma jadi tukang
foto,kekeke” dia pun sepakat, naik menderita, diatas menderita, turunpun
menderita dan siap-siap menderita karena harus menyetir membawa kami pulang ke
rumah Widah. Maaf da terima kasih banyak ya Irul... ^^.
![]() |
| disaung beristirahat sambil menunggu yang lain datang "cerita menderitanya Irul, naik menderita, diatas menderita, turunpun menderita, kekeke" |
Sebelum kami turun pulang, sempat kami mengambil beberapa foto duduk dibelakang mobil. Saat itu aku sadar jika celana Zakki belang seperti seseorang yang mengompol. Ternyata usut punya usut ketika pendakian ia menaruh minyak tawon dalam sakunya, dan parahnya minyak tawon itu tak bertutup dan dalam keadaan terbalik. Jadilah seluruh isi minyak tawon dalam botol berpindah ke celana Zakki yang membuatnya merasa panas luar biasa diarea “itunya.”
Zakki
kembali mengambil posisi biasa, dibelakang kemudi yang penumpangnya perempuan
semua. Disebelahnya ada Widya dan Shanah. Tepat dibelakang Shanah ada Trisna
bersebelahan denganku disebelah kanannya, disusul Epo dan Rara disebelah
kananku. Lalu dikursi belakang ada Inem, Aulia, mba Ferdian, dan mba Fitri. Sedangkan
pick up dimasteri oleh Irul dengan
Zen dan Widad selaku juragan duduk disebelahnya. Dibagian bak, diisi penumpang
setia mas Hendro, mas Arva, mas Rurin, Nurul, dan Lukman beserta barang bawaan
kami.
Jalanan
berliku dan sejuk ditambah badan yang luar biasa capeknya membuat seisi
penumpang baik dikursi depan hingga paling depan mobil yang dikendarai Zakki
angguk-angguk dan geleng-geleng karena terkantuk-kantuk. Semuanya tertidur
disaat sang pengemudi pun mengidap kantuk kadar tinggi. Musik beat yang biasanya
diputar pun berubah menjadi musik-musik melankolis dan sendu. Menambah bubuk sirep dan membuat kami semakin terbuai
tidur pulas. Zakki kembali dengan keisengannya membalik badan dan mengambil
gambar kami yang miring kekiri sperti padi yang kena wabah tikus atau
kebanjiran.
ini bukan padi yang kena angin,
condong semua kekeke ^^
Sampai di
rumah Widad kami disambut dengan tajin
jenang grendul yang kalau dirumahku biasanya disebut tajil. Nikmatnya, aku teramat sangat banget suka tajin ini, seperti biasanya dirumah aku
pun paling suka. Setelah menyantap tajin
makan siang pun kami lahap. Aku benar-benar kelaparan dan melahap semuanya.
Hujan masih mengiringi perjalanan kami.
Sehabis
sholat dzuhur kami pun berpamit meninggalkan rumah Widad, sang juragan (Widad)
pun turut balik ke Malang bersama kami. Kami melanjutkan perjalanan dengan bis
ke Probolinggo dari terminal Bondowoso, dari Probolinggo barulah kami
melanjutkan ke Malang. Jalanan Bondowoso ke Probolinggo sempat membuat perutku
mual lantaran jalanannya sangat berkelok dan panjang. Tapi sangat terhibur
dengan pemandangan yang asri dari hutan dan kebun-kebun serta rumah-rumah yang
masih terlihat antik. Dari jalanan pula kami lihat pantai pasir putih.
Perjalanan Probolinggo Malang kuhabiskan dengan tidur meskipun sepanjang
perjalanan itu aku dihimpit dua kali oleh total empat bapak-bapak yang
kesemuanya besar dan menyeramkan.
Beberapa
hari kemudian baru ku berpikir dan bertanya dalam hati, kenapa kura-kura bisa
sampai di kawah Ijen?. Maksudku kenpa hiasan dari belerang yang dijual di kawah
Ijen harus berbentuk kura-kura ya?. Oh, barangkali karena kura-kura mewakili
beberapa hal yang bisa dikatakan memiliki nilai filosofis seperti: pertama, kura-kura memang lambat, tapi
ia punya tujuan. Kedua, kura-kura membawa
beban berat sebagai konsekwensi dan tanggung jawab nikmat rumah portable yang
selalu melindunginya seperti itu pula bagi para penambang belerang yang harus
membawa beban berat berpuluh kilo hingga seratus kilo demi menafkahi
keluarganya. Ketiga, ukiran rumah
kura-kura sederhana tapi bermakna mendalam, seperti seharusnya manusia yang
hidup sederhana dan penuh pemaknaan yang mendalam. Keempat, sejak menetas menjadi tukik, kura-kura telah dihadapkan
dengan kehidupan laut yang lepas dan penuh dengan perjuangan hingga usia yang
mampu ia capai, sperti manusia yang harus kuat menghadapi batuan granit nan
kokoh dan menjulang demi mencapai yang dituju. Ah, kura-kura saja bisa sampai
ke puncak Ijen, kenapa aku tak bisa mencapai puncak mimpiku. Kata seorang teman,
“bermimpilah setinggi-tingginya, kalaupun jatuh toh kita jatuh diantara
bintang-bintang nan indah,” ada benarnya juga yang ia bilang.
Malang, baru ditulis 5 Janurai 2014.8.46pm Lisvy Nael. f
Perjalanan dalam Kenangan sebuah Gambar
![]() |
| Jalanan yang berkelok-kelok dan disekslilingi hijau tetumbuhan dn pepohonan :d |
![]() |
| dilokasi air terjun emerarld :D |
![]() |
| diatas pose tengah malam, dibawah pose sudah terang ^^ |
![]() |
| ngempet nunggu sunrise :D |
![]() |
| pendekar pendaki Kartini |
![]() |
| turun nyokk... |




























perjalanan yang seru, sepertinya :D
BalasHapuspastinya, recommended place to travel Yun, mumpung masih di Malang
BalasHapus