Mengapa Kura-kura di Puncak Ijen?

         Akhir minggu ini menyenangkan buatku, tertanggal 20 hingga 23 Desember aku berkesempatan menapakan kakiku di bumi sunrise of Java Banyuwangi yang terlanjut dengan kota-kota disekitarnya, Situbondo dan Bondowoso.  Perjalanan beberapa hari ini dengan maksud untuk menghadiri pernikahan seseorang yang kami kenal melalui kampus dengan semangat serupa dalam waktu yang tak sama. Pernikahan Mas Hasnan Bachtiar, seseorang yang bisa dibilang teman atau mentor biasanya. Menghadiri undangan adalah tujuan pertama, tujuan lainnya adalah bersilaturahmi kerumah sahabat kami, Romzatul Widad (yang namanya jika di bahasa Indonesiakan berarti Rumus-rumus Cinta, nama yang luar biasa bukan?). bersilaturahmi ke rumah sahabat ini bukan hanya kami berdua, namun sahabat-sahabat lain dari Malang bersama Widad berrombongan datang ke rumahnya pada hari sabtu (21 Desember) menggunakan bus tujuan Situbondo. Tujuan lain yang mengantarkan kami ke rumah Widad adalah kawah Ijen yang memiliki paket keagungan Tuhan berupa blue fire (si api abadi) , the green crater (sang kawah Ijen), dan air terjun yang entah namanya tak kutanyakan. Air terjun tak biasa karena warna airnya berwarna hijau dengan buih yang amat putih dan banyak membentang diatas permukaan muara terjun. Semula kupikir ada pabrik sabun cuci diatas dan air ini terpolusi limbahnya, ternyata warna hijau yang serupa warna limun hijau bening ini berasal dari air kawah sehingga aroma belerang yang menyengat cukup membahayakan pernafasan dan jika menyentuh airnya bisa saja gatal akan menghinggapi kulitmu.  

Tanggal 20 aku bersama sahabatku bertolak dari stasiun Malang menuju Banyuwangi pukul 15.00. mengulang adegan dalam drama-drama televisi yang memaksa, kami mengejar-ngejar kereta Tawang Alun yang hampir meninggalkan kami. Ini perjalanan keduaku menggunakan kereta ke arah Surabaya, biasanya aku menggunakan kereta kea rah Jakarta untuk pulang kampong. Masih serasa drama, aku memandang dari balik jendela pemandangan yang belum pernah kusaksikan dalam kereta perjalanan pulang kerumah. Ada petani bunga mawar, sedap malam, dan entah apa lagi tak jelas pandanganku. Lalu ilalang atau lebih mirip rumput teki yang sedikit tinggi berbunga, seperti bunga ilalang atau gandum. Berwarna putih dan menyebar dalam tanah tanpa garapan. Hamparan ini membuaiku, “ah, ternyata perjalanan melalui jalur ini tak kalah indah.” Pemandangan adalah salah satu alasanku mencintai berkendera dengan kereta ketimbang bus atau mobil.
Pukul 22.00 kurang lebih saat kereta kami berhenti di stasiun Karangasem, satu stasiun sebelum pemberhentian kereta terakhir di stasiun Banyuwangi Baru yang katanya tak jauh dari pelabuhan Ketapang. Kami dijemput oleh sahabat kami dari Banyuwangi, diantarkan ayahnya yang duduk didepan kemudi dan adiknya, Yayan (asal kamu tahu, Rima bingung bagaimana aku tahu nama adiknya, padahal ia belum mengenalkan. Dia belum tahu kalau aku lebih cepat akrab dengan anak kecil dari pada dengan orang-orang yang mengaku dewasa) duduk disebelah sang pengemudi yang tak lain adalah ayah Rima, sahabat kami dari Banyuwangi itu.
Dirumahnya kami disambut dengan hangat (pun dalam arti sebenarnya, karena saat kami tiba suda tersedia teh hangat diatas meja untuk kami reguk selepas perjalanan yang lumayan panjang itu). Ibu Rima sangan grapyak atau ramah, bahkan beliau kemudian memasakan makanan untuk kami santap. Setelah selesai dengan makanan kami, kami pun diajak untuk kerumah tepat diseberang rumah ibunya Rima. Rumah nenek yang juga Rima tinggal didalamnya. Kami mengobrol hingga larut, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengenakan piama yang disediakan Rima pada kami. Jujur aku agak malu mengenakan piama itu, selain warnanya yang sangay lembut tetapi juga model bentuk dan gambar piama itu yang terlalu imut, aku merasa tak percaya diri untuk tampil seimut itu untuk pergi tidur. Hehe.
Paginya teh hangat kembali menyambut kami, dan sarapan dengan nikmat (ini masakan seorang ibu man, dan bukan ibu warung tentunya). Tentu saja kami sudah mandi sebelum sarapan, jadi ketika sarapan berakhir kami siap untuk berkeliling di kampung halaman Rima. Dia akan mengajak kami ke danau dan pantai dekat rumahnya dia bilang. Pukul Sembilan kami pergi ketempat yang Rima maksud, Rima dan Aulia (ah, aku lupa menyebutkan namanya dari awal, sahabt seperjalanan ke Banyuwangiku) mengndarai sepeda motor berboncengan dan aku memilih, tada...sepeda gowes. Pilahanku memakai sepeda gowes berujung pada tiga hal: menyenangkan, melelahkan sampai membakar wajahku merah kehitaman, dan menyenangkan J. Kami benar-benar pergi ke danau yang dimaksud Rima (yang sebenarnya rembasan air laut digalian atau lubang-lubang), dan sangat cantik. Mengambil latar danau-danau mini itu kami berfoto, mengambil gambar mengukir senyum dan memaku pose sambil berupaya memerangkap lansekap gunung Ijen pula.

Gagasan ke pantai juga memojokanku pada tiga hal: ini gagasan yang benar, ini gagasan yang keliru, dan ini gagasan yang benar sekali. Kuanggap benar karena kubayangkan pantai yang juga merupakan selat Bali ini memiliki pasir putih dan bersih dengan angin yang dilenggokkan nyiur-nyiur dan pepohonan bakau menyejukan dan mendamaikan. Ini gagasan keliru, karena ternyata pasirnya hitam sehingga airnya pun terlihat gelap, belum lagi jarak yang mesti kutempuh dengan mengayuh yang lumayan, piuh...membelangkan wajahku merah hitam membara. Ketiga, ini gagasan yang benar, karena mengapa harus menyesal mengalami waktu yang indah dengan bersepeda di jalanan antara sawah yang luas (sebelum sampai ke danau ada sawah yang cukup luas untuk kami lewati), melihat danau nan indah dengan sebuah pohon sengon berdiri ditengahnya, dan melihat pantai yang tak ada manusia lain selain aku dan Aulia (karena Rima lebih memilih menunggu). Jdilah wajahku menghitam merah membelang, belum keringat yang menambahkan efek ngenes hingga berulang kali Aulia dan Rima bersilih menawarkan untuk bergantian mengayuh sepeda- mereka sepertinya tak tega melihatku sedemikian rupa kepayahan- tapi aku menolak sampai kembali di rumah Rima.
 
tepat dibelakangku adalah Selat Bali, cantik bukan???



Dzuhur menjelang, waktunya kami buat bersiap-siap ke rumah mas Hasnan. Ayah Rima kembali mengantar kami, ke rumah mas Hasnan tentu saja. Yayan setia dikursi kiri sebelah kemudi dan Abid (kakanya Yayan, adik Rima) duduk dikursi paling belakang membantu sang Ayah memantau jalanan. Belum lama kami keluar dari gang hujan deras pun mengguyur. Ah, bagaimana jadinya jika kami harus bersepeda motor? Thanks God. Rumah mas Hasnan ternyata masuk gang kecil, cukup susah bagi ayah Rima memarkirkan mobil. Kami bertiga pun langusng disuguhi makan siang, basa-basi hanya sekedarnya dan sekedar salaman. Merasa cukup lama meninggalkan ayah Rima, Yayan dan Abid kami pun beringsut hendak pamit pulang. Meminta satu momen untuk diambil gambar bersama sang pengantin, kami pun masuk kedalam rumah. Dan benar-benar langsung pamit pulang setelah merapatkan barisan untuk difoto.
Sampai sekamir pukul tiga sore dikediaman Rima kami pun berganti baju dan sholat Ashar. Tak ada waktu mandi lagi, hanya mengemas barang-barang (atau tepatnya baju-baju) kedalam tas untuk melanjutkan perjalanan ke rumah Widad di Bondowoso. Sekamir pukul empat sore kami pun berpamitan pada ibu Rima dan ayahnya. Tak diantar ayahnya (karena ayah Rima ada rapat di sekolah) kami pergi ke terminal Banyuwangi dengan diantar Rima dan Abid menggunakan sepeda motor. Hujan kembali megguyur kami, perjalanan ke terminal pun tak luput basah kuyup.
Tak ada bis yang bisa mengantarkan kami ke terminal Situbondo di terminal Banyuwangi. Jembatan di Situbondo yang putus menjadi penyebab banyaknya keberangkatan dan kedatangan dari dank e SItubondo Probolinggo atau Malang menjadi terganggu. Pilihan yang ada menunggu bis jam lima sore yang kabarnya gagal singgah di terminal Banyuwangi, atau menunggu bis jam tujuh malam -yang katanya bis terakhir- tapi tak ada yang menjamin sang bis benar-benar datang, atau jam enam pagi besok. Alamak ... pikirku, rencana bisa berantakan. Voila, ternyata ada alternative kepepet. Kami bisa naik angkot sampai terminal ketapang untuk dilanjutkan naik bis ke terminal Situbondo. Ada ragu sejenak diantara kami, terutama Rima yang sama sekali tak kepikiran dan membayangkan resiko perjalanan ini. Kami pun nekat mengikuti jalur ini. “Pak nitip teman-teman saya ya pak” begitulah kiranya ucap Rima kepada salah satu penumpang yang duduk disamping pak supir angkot. Rima khawatir lantaran pak supir sempat menyebutkan preman-preman yang mungkin banyak ditemui di terminal ketapang. Tapi tidak ternyata, kami pun melaju aman menyisiri the sunrise of Java land.
kami sampai di terminal ketapang selepas beberpa menit adzan Maghrib. Angkot yang biasanya bertarif lima ribu naik mendadak menjadi lima belas ribu. Tak apalah yang penting perjalanan aman dan samapai. Bersama bapak-bapak diangkot menuju terminal Ketapang, kami dua-duanya (bukan satu-satunya) perempuan. Sempat takut, namun guna mencari aman aku pun mengajak ngobrol salah satu penumpang dihadapanku. Ternyata si bapak hendak pulang ke Malangsetelah menjuri kejuaraan Tapak Suci di Banyuwangi tapi mampir ke Situbondo, kerumah kakaknya. Wah, ternyata aku bersama pendekar rupanya.
Bis tujuan Situbondo tepat dihadapan kami dan siap berangkat. Aku bersama Aulia dan bapak-bapak pendekar (dua orang jumlahnya) pun langsung mendudukan badan kami dikursi masing-masing. Berhubung bis masih sangat lengang kami pun duduk di kursi terpisah. Tapi tak menjadi hambatan kami untuk saling bertukar guyon. Bapak pendekarnya menjamin perjalanan kami sampai ke Situbondo. Haha seru nian.
Aku terheran bagaimana bumi Jawa Timur sepertinya hanya milik dua suku, Jawa dan Madura. Disetiap titik bis ini mengangkut penumpang rasanya semua berbahasa Madura. Kami heran bagaimana Madurish berdiaspora hingga katanya sampai ke Rusia (kata bapak pendekar dibelakangku yang tak lain pun keturunan Madura). Perjalanan ke Situbondo benar-benar melelahkan dan tak mampu kami lawan kantuk yang menggantungi kelopak kami, khususnya aku sendiri. Bis makin penu sesak dengan bahasa Madura yang mengudara memenuhi pendengaran kami. Ah, ternyata bis ini tujuan akhirnya ke Madura, sang bis Akas.
Sampai kira-kira jam sepuluh di terminal Situbondo. Bapak pendekar dibelakangku pun langsung pamit setelah orang yang menjemputnya datang. Bapak pendekar satunya masih menunggu bis ke Bondowoso, dan menemani kami sampai dijemput (bapak yang bersikeras dan saling lempar tanggung jawab karena merasa dititipi oleh Rima, jadi ia merasa berkewajiban menunggui kami benar-benar aman samapai dijemput). Tapi kami memilih untuk menghentikan kerepotan ini, kami pun berpamitan pada bapak pendekar untuk pergi ke Masjid dan mengaku akan dijemput dan bertemu teman-teman dari Malang disana. Resmi kami pamit dan pergi ke masji yang aku lupa namanya.
Tak menunggu lama kami pun langsung masuk ke masjid dan mengambil wudlu di kamar mandi. Sholat Isya dan Magrib kami rapel. Kantuk tak menyemangatiku menunggu yang lain atau jemputan datang. Aku pun tertidur di masjid, sedang Aulia memilih untuk terjaga dan menjagaku sambil terus mengabari Rima perkembangan perjalanan kami (Rima bilang takkan tidur sebelum kami sampai di rumah Widad). Aku benar-benar pulas, sambil sesekali membuka mata dan mendapati Aul sedang makan snack aneka rupa yang ia bawa. Meski lapar aku benar-benar dikalahkan oleh kantuk dan menolak tawaran ngemil didalam masjid. Jam sebelas Irul (kuketahui namanya setelah kenalan) datang sebagai utusan Abahnya Widad menjemput kami.
Kami menunggu rombongan dari Malang datang, dan tak lama berselang mereka bernar-benar Nampak dihadapan kami dengan muka yang amat sangat kacau setelah perjalanan yang amat menjemukan ditemani hujan, jembatan putus, macet, kelaparan dalam posisi terjebak macet, dan waktu yang molor lamar. Tada,,, mobil yang dibawa Irul takkan sanggup membawa kami semua. Pick Up yang dituani Abahnya Widad pun meluncur siap mengangkut separuh dari kami bersama barang-barang bawaan. Perempuan-perempuan didalam mobil sedang beberapa memilih naik pick up bersama para lelaki.
Disambut dengan amat ramah dan membuat rumah tiba-tiba repot kami pun sampai di rumah Widad. Makan malam telah siap kami lahap, dan tanpa malu-malu atau sungkan kami pun (khususnya saya) tak menyediakan banyak waktu untuk mengabaikan makanan. Sudah sholat dan sudah makan, tak ada alasan untuk menunda kantukku diambang pintu, langsung saja kusongsong dan sambut datangnya tidur.
Tidur ditepi ranjang membuatku tak nyaman, rasanya hampir jatuh dan was-was jika sampai menimpa So’ep atau Inem yang tidur di kasur dibawah. Belum lagi berisiknya kresek yang terus digesek ditengah malam yang badan rasanya remuk dan ngantuk sangat dikatator membuatku pindah ke sofa memilih tidur sendirian. Ternyata tak bisa langsung terpejam mataku, dan giliran pagi harinya aku yang mendapat protes lantaran terus membuat suara-suara berisik diatas sofa. Haha, maaf,,, tak maksud.
Ada bagian yang lupa kuceritakan. Kami merubah rencana untuk naik ke Ijen malam itu juga. Ummu Widad menganjurkan kami untuk menundanya besok malam. Bukan hanya karena kelelahan yang menimpa kami, tapi juga hujan yang sepanjang hari membuatnya cemas jalanan ke atas akan becek dan membahayakan kami semua. Perdebatan pun tak terhindar, buatku menyebalkan saja tak bisa sesuai rencana. Ada yang membuatku resah jika senin aku tak bisa samapai di Malang, dan part time hanya alasan kenapa aku bersikeras untuk naik malam itu juga. Well, kami sepakati malam itu kami istirahat saja dan perjalanan ke kawah Ijen besok siangnya sekalian menyiasati waktu supaya cukup untuk kami pergi ke Balurang.
Pagi-pagi ummunya Widad menyiapkan sarapan dan duduk memberikan nasehat untuk perjalanan kami. Seketika aku ingat hari itu adalah hari ibu, 22 Desember. Secara spontan kuucapkan “selamat hari ibu ya bu...” dan yang lain pun mengekor bersautan mengucapkan. “pas hari ibu kok tiba-tiba anaknya banyak ya bu..” aku nyeletuk lagi. Aku merasa senang meski aku tak mampu dan tak bisa mengucapkan kata-kata macam itu untuk ummi, ibuku sendiri.
Seusai sarapan yang dihelat setelah mandi, kami pun bersiap menuju Taman Nasional Kawah Ijen yang merupakan wilayah perbatasan Banyuwangi dan Bondowso. Logistik, perbekalan tiap diri, dan semua yang kiranya bisa berguna kami siapkan. Jam sebelas kami berangkat dengan diiringi gerimis yang cukup membuatmu basah kuyup berdiri dibawahnya dalam lima menit. Perempuan-perempuan didalam mobil sedang tas-tas kami dan para lelaki menaiki kembali pick up yang tampak keren dengan penutup dari deklit. Hujan tak menjadi halangan kami, kami pun terus melaju menjuj Taman Nasional Kawah Ijen.
Selama perjalan naik sapai pos pertama pendakian kurang lebih ada tiga pos yang kami lewati. Pos pertama di Jampit, yang kedua sepertinya sebelum memasuki perkampungan, dan yang ketiga sepertinya (lagi) sebelum kami mengikuti jalan berkelok dan berkabut yang akan menyuguhkan pula pemandangan elok dengan bonus air terjun hijau dan putih.
Air Terjun emerald (ngarang aja sih yang ini), hijau bening dan putih berbuih
Dalam perjalanan kami sempat berhenti untuk menikmati keindahan air terjun yang alirannya tak deras tapi cukup membuat kami semua takjub. Arinya berwarna emerald dan pada permukaann muara air terjunnya akan tercipta buih berwana putih sangat bersih. Melihat fakta itu membuatku berpikir konyol dan menduga curiga bodoh yang disengaha supaya orang-orang tertawa (artikan sendiri kalimat ini ^^) bahwa dihulu sungai ini terdapat pabrik sabun cucui piring berwarna hijau sun*&^%# atau ada ibu-ibu sedang berramai-ramai mencuci piring dengan sabun yang sama. Tapi sepertinya hulu sungai ini juga dekat-dekat dari kawah karena bau airnya sangat menyengat belerang dan membuat tangan gatal-gatal. Tak lupa momen itu pun kami abadikan dalam lusinan gambar ramai-ramai ataupun solo J.
Setelah cukup puas kami pun melanutkan perjalanan. Sampailah kami di pos pertama pendakian, jadi kami harus memarkirkan kendaraan kami. Kami melarikan diri ke pondok wisata, sebuah pondok yang disediakan bagi wisatawan dan it’s free. Kami diminta laporan ke pos, menyatakan berapa jumlah rombongan kami dan akan sampai kapan disana. Untuk bisa naik ke atas kita cukup membayar dua ribu rupiah (Rp 2000,-) per orang lokal dan lima ribu rupiah (Rp 5000,-) untuk wisatawan mancanegara. Oh ya, di pos-pos sebelumnya pun kami harus melapor. Hanya kami cantumkan sebuah nama dan plat kendaraan kami yang diperlukan dalam setiap laporan.
Pos Penakian, tempat kami harus memulai berjalan :D
Selain penghematan menggunakan pondok wisata, kami pun menghemat energi dengan enggan pergi ke mushola yang sudah ada untuk sholat tapi kami menumpang sholat di pos. Penghematan lain yang kami lakukan adalah kami membuat makan sendiri dan tidak beli di warung. Makanan sederhana berupa sepuluh mie instan untuk Sembilan belas mulut dan itu sungguh nikmat meskipun biasanya aku memilih untuk makan mi kuah ketimbang mi goring, tapi aku makan juga J. Penghematan yang lain adalah kami memesan satu kamar mandi dengan tarif normalnya satu kali masuk dan satu kali orang dua ribu rupiah (Rp 2000,-) yang sama dengan tarif naik keatas kawah, kami sewa dengan harga dua puluh ribu rupiah (Rp 20,000,-) untuk bolak-balik dan semua anggota kelompok.
Kami menunggu hingga pukul dua belas malam (24.00) di pondok wisata untuk mendaki ke kawah demi menangkap keagungan pemandangan blue fire atau si api abadi. Tapi gerimis kembali mengiringi kami sedang udara mulai sangat dingin. Jam sebelas kami berkemas dan siap-siap pergi ke atas samapai ada seorang petugas menghamipiri pondok dan menganjurkan kami untuk berangkat setelah pukul dua belas malam. Oh ya, di pondok ada kelompok lain yang juga akan naik, tapi kami tak sempat berinteraksi atau sekedar saling menyapa.


didalam pondok wisata, mengisi waktu menunggu malam.
Pukul 24.00 kami beranjak dari pondok dan menaruh logistik beserta aneka rupa barang-barang lain kedalam mobil. Kami bersiap dengan mengenakan jas hujan plastic yang kami beli dalam perjalanan disebuah pasar. Beberapa detik sebelum kami benar-benar pergi kami sisihkan waktu untuk berdo’a untuk keselamatan kami. Dan, satu, dua, tiga,,, kami pun dengan suka cita dan bersemangat berangkat sambil jingkat-jingkat kaki (sepertinya itu hanya terjadi pada diriku saja, haha ^^).
Baru satu tanjakan kami lewati tiba-tiba mba Fitri kenapa-kenapa (kan biasanya orang Tanya keadaan yang lainnya dengan bilang “kamu gak kenapa-kenapa?”), karena kami pun tak bisa mendiagnosis dan menduga apa yang sebenarnya ia rasakan. Ia kami rebahkan dan mulai memberikan pertolongan pertama berupa menggosok badannya dengan aneka minyak-minyakkan (minyak tawon dan minyak kayu putih). Perdebatan pun berlangsung untuk memutuskan akankah kami harus menghentikan perjalanan memilih untuk kembali kebawah dan membatalkan pendakian atau melanjutkan pendakian tanpa mba Fitri dan mas Hendro (sang kekasih, ciye,,,ciye). Tapi kami akhirnya memilih untuk melanjutkan pendakian.
dari kiri: Lukman, Widya, Zakki (dengan gagang payungnya), aku, dan Rara
Perjalanan mulus-mulus saja, hanya ada seorang kutu loncat yang tak bisa diam terus mengusili kami, Zakki. Entah bagaimana dia melihatku dari belakang dan memanggilku Pinguin, ah dasar Zakki, hiu kurus. Zakki terus melompat kesana-kemari dan menarik pergi siapa saja yang meladeni. Berbekal sebuah gagang payung yang putus ia menarik-narik siapa saja dengan pangkal gagang payung yang melengkung. Dia melaju terus bersama Widya dan entah bagaimana Trisna dan Lukman pun bersama mereka. Kehadirannya meramaikan pendakian kami.

Aku dan Rara mengejar mereka yang paling depan, Zakki, Widya, Trisna, dan Lukman. Widad yang tadinya bersama kami pun tertinggal. Jadilah aku hanya berdua dengan Rara dan sejenak menikmati lingkungan yang begitu teramat indah. Langit tampak tak terllau bersih dengan awan-awan kelabu yang berarak ringan sehingga bintang-bintang tak Nampak terang dan banyak. Tapi bulan, entah bagaimana menemukan kami dalam sarungnya. Membuat jalanan dan lingkungan yang tak lain gunung-gunung yang tak bernama atau kami saja yang tak tahu namanya, mampu kita lewati tanpa bantuan senter atau penerangan apapun selain lembut cahaya sang bulan. Suasananya begitu syahdu, hingga angan kami melayang saling membayang bagaiaman jika perjalanan ini dilakukan berdua dengan sang belahan jiwa. Ah, syahdu, hanya kata itu yang mampu kuukir.
Sesampai kami di puncak, dapatilah kami sosok tubuh yang merebahkan diri menengadah menghadap langit langsung kearah kawah, Zakki, Lukman, Widya, dan Trisna. Kami pun bergabung merebahkan diri, dan datanglah Nurul, Zen, dan Widad dibelakang kami. Kami sempat pula mengabadikan kelelahan yang kami suap dengan merebah itu. Ah, syahdu lagi yang mampu kurasakan selain hawa dingin yang mulai merangkak naik ke tengkuk.
Sesampai dipuncak, merebahkan diri merebahkan pula lelah dan katuk t.t


Kawan-kawan lain pun berdatangan. Kami turun untuk menangkap keagungan Tuhan dalam ingatan kami, sang api abadi si blue fire. Namun sayang, entah bagaimana sepagian kami disana blue fire sedang tak Nampak gagah, nyalanya serupa ceplik atau lampu minyak teplok. Sedikit kecewa sebuah celetukkan keluar dari mulut ini “wah,,,lebih terang dari lampu akuariumku.” Tapi tetap saja tak bisa dan tak boleh ku pungkiri blue fire yang tampaknya tak lebih besar dari nyala ceplik dari atas sini tetap indah, belum kutemukan ditempat lain ada keindahan semacam ini.






Blue Fire dalam keadaan prima dan difoto dari bawah, ini bukan foto kami.

Blue Fire yang mampu kami tangkap lewat lensa sederhana t.t





Mengambil gambar adalah hal yang rupanya seolah menjadi kewajiban. Namun, aku sedang merasa enggan dan memilih duduk berhadapan- dengan seorang penambang yang akan turun sedang beristirahat. Aku bercakap-cakap sampai akhirnya Shanah bergabung dalam obrolan kami. Aku pun berpindah duduk disebelah si bapak dan diikuti Shanah setelah si abapak menawari kami. Baru ku tahu ternyata bapak yang duduk beristirahat dibalik sebuah batu besar ini bukan suatu kebetulan. Batu besar dipilih karena ternyata mampu menghalau angin gunung yang hendak turun dan minta gigil tubuh. Aulia dan Tari bergabung turun bersama kami duduk dibalik batu setelah si bapak kembali melanjutkan perjalanan. Sebelum aku merebah untuk menidurkan badan, aku turut bergabung dengan teman-teman untuk berpose didepan kawah yang masih gelap hanya dihiasi gumpal-gumpal asap yang mengepul. Shanah dan Aulia turut pula. Kami berpose bersama.
Shanah dan Epo mengambil posisi disebelah kanan di balik batu tadi. Tempat yang paling memungkinkan untuk menghalau angin karena posisi batu yang lebih tinggi dari sisi sebelah kiri yang dihuni Aulia dan Tari. Sedang aku terombang-ambing bingung memilihi tempat yang nyaman dan aman, tapi nihil. Aku pun memutuskan berkelana mencari yang lain. Kulihat ada satu kelompok yang sedang membuat minuman hangat dari kompor portable, kupikir itu mereka tetapi setelah kulayangkan sebuah sinar dari headlampku ku sadar merka bukan teman-teman yang kucari. Aku mencari Irul yang sebelumnya tidur berselimut sarung diatas pagar jalanan menurun menuju kawah, tapi ia sudah tak disana. Aku melanjutkan jalan sampai aku bertemu Nurul dan Mas Arvan yang sedang melihat kura-kura berwarna kuning dalam genggaman seorang penambang. Mas Hendro menghamipiri kami dan berpamit akan turun lebih dahulu karena Zakki tak kuat menahan dingin lantaran luka kaki yang pernah patahnya meminta perhatian lebih dalam hawa dingin.
Aku mengambil satu kura-kura dan stalaktit, menukarkannya dengan uang sepuluh ribu rupiah (Rp 10,000,-). Mas Arvan mengambil satu kura-kura, Nurul menjadi penonton saja. Hawa dingin sudah tak mampu kutahan, dan aku kembali ketempat teman-teman berusahan sebisa mungkin menghangatkan badan bersembunyi dibalik batu seperti udang. Ah, ada teman-teman dibalik batu rupanya pikirku setelah ada kura-kura diatas kawah Ijen.
Widad berada ditengah bersama Rara diantara Shanah dan Epo disebelah kanan serta Tari dan Aulia disebelah kiri. Ada Zen dan Nurul duduk menghadap kawah. Aku salah tingkah harus bagaimana menghadapi angin yang menusuk ini. Berbaring memeluk kaki Shanah dan Epo memang membantu menghangatkan mereka, tapi aku terpapar pada angin yang sedang bersemangatnya lari turun kebawah. Sebelumnya aku pun duduk diam diatas batu yang menghalau si angin dari teman-temanku dibawah, aku menahan gigil dan gemletuk gigiku. Jam lima pagi, aku pun memilih duduk bengong memeluk lututku sendiridemi sedikit kehangatan. Ada perempuan Korea dari atas meminta botol yang ada disebelah Epo. Aku ulurkan, ternyata mereka membuat api dari botol-botol plastik yang dikumpulkan. Aku pun memungut beberapa botol dan bergabung bersama mereka membakar botl yang kubawa. Aku heran bagaimana mereka tahan dengan asap yang menguar dari plastic yang dibakar. Tangan memang sedikit merasa hangat, tapi punggungku langsung berhadapan dengan sang angin yang cari ribut itu. Beberapa temanku ternyata bergabung dalam lingkaran sampai akhirnya si api benar-benar mati.
Kami kembali ke tempat semula, aku berdiri berpelukan dengan Widad dibelakangku, mencoba merayu kehangatan untuk bersama kami. Shanah bergabung didepanku, aku memluknya dan memasukkan tanganku kedalam saku jaketnya. Widad beringsut mendekat bersama Zen, si adik. Aku dan Shanah duduk berelonjor masih saling memeluk. Dingin membuatku tak mampu membuka mata. Kubenamkan kepalaku kepundak Shanah dan kurasakan kepala seseorang mendarat bersndar dikelaku, mas Arvan rupanya. Sampai langit benar-benar terasa lebih cerah kami pun bersepakat untuk menyongsong sunrise.
Kami kembali ketitik kedatangan kami semalam merebah membaringkan lelah sesampai di puncak. Orang-orang sudah ramai, dan kami mulai melakukan kewajiban mengabadikan momen dengan bersenjata kamera kantong milik Epo, si putih, dan kamera kantong milik mas Arvan dan kamera ponsel Widad. Pose-pose andalan pun kami (Epo, Shanah, Aulia, Widad, Tari, Aku, Rara, mas Arvan, Nurul, Irul, dan Zen) keluarkan –kasian Irul dan Nurul dapat banyak giliran moto ketimbang difoto- hehe. Bebarapa teman yang tidak sempat ikut mengumpulkan kenangan tersiram sinar mentari pagi diatas kawah Ijen itu Mas Hendro, Mba Fitri, Widya, Zakki, Trisna, Lukman, mas Rurin, dan mba Ferdian. Paling suka aku kalau foto ada Zen, dia Nampak murung seringkali. Jadi aku akan mengatakan padanya “Zen,,,senyum!” dan tanpa menunggu waktu lama Zen pun akan mengepakan senyumnya yang lebar dan manis. “nah,,,kalau senyum kan manis, hehe.”


Widad dan Zen "senyum Zen, kan manis kalo senyum hehe ^^"

Sudah merasa cukup mendapatkan banyak gambar dan takut membuat teman-teman menunggu lama dibawah, kami pun memutuskan turun. Aku bersama Epo, Rara, Widad, Tari, Nurul dan Irul berjalan didepan. Sepanjang jalan kami habiskan untuk saling mengenal bahkan diri kami sendiri. Ada kejadian yang lekat kuingat ketika Tari mulai berjalan meluncur didepan kami. Aku melihat seekor monyet sedang bertengger diatas dahan sebuah pohon yang tak terllu tinggi dan tak besar serupa pohon kersen. Aku langsung meneriakan nama Inem (panggilan untuk Tari). “Inem,,, ngapain kamu disana, ayo turun” sambil berulang mengucapkan kalimat itu dengan diiringi derai tawa beberapa teman dan orang-orang yang berpapasan masih tak paham denganku. “Inem,,, loh, mau kemana kamu kok tumben malu-malu. Jangan pergi” kalimat guyon lain kulontarkan setelah si monyet beranjak. Teman-teman yang lain pun tertawa menyadari kelakuanku. Beberapa bule pun ikut melihat kearah aku memanggil inem dan ikut memanggil Inem (menyangka si monyet itu adalah Inem) sedang si Inem yang sesungguhnya mengataiku gila sambil terus berjalan cepat menuruni turunan yang berkelok dibawah.
Mungkin kamu takkan tahu jika aku tak memberitahu, sini kubisikan “selama perjalanan pulang pemandangan dihadapan kami sungguh menakjubkan, seperti ku bilang, syahdu.” Di kiri kami terbetang Banyuwangi dan Bali (yang kalau malam lampu-lampunya panjang serupa kereta), dan gunung-gungung yang entah apa namanya dengan awan serendah milik Dragon Ball. Awan yang putih bersih memintaku untuk mengulumnya dan tak rela jika habis lumer.


gunung-gunung yang entah apa namanya, daebak ^^

Inem pun pergi mendahului kami semua dan sampai di pos sebelum kami semua. Kami berhenti disebuah saung menunggu rombongan dibelakang kami tiba sambil beristirahat. Si Irul berkata kalau ini adalah perjalanan penuh derita. Naik menderita turunpun menderita. Lalu kutambahi “diatas pun menderita ya Cuma jadi tukang foto,kekeke” dia pun sepakat, naik menderita, diatas menderita, turunpun menderita dan siap-siap menderita karena harus menyetir membawa kami pulang ke rumah Widah. Maaf da terima kasih banyak ya Irul... ^^.

disaung beristirahat sambil menunggu yang lain datang "cerita menderitanya Irul, naik menderita, diatas menderita, turunpun menderita, kekeke"

















Sebelum kami turun pulang, sempat kami mengambil beberapa foto duduk dibelakang mobil. Saat itu aku sadar jika celana Zakki belang seperti seseorang yang mengompol. Ternyata usut punya usut ketika pendakian ia menaruh minyak tawon dalam sakunya, dan parahnya minyak tawon itu tak bertutup dan dalam keadaan terbalik. Jadilah seluruh isi minyak tawon dalam botol berpindah ke celana Zakki yang membuatnya merasa panas luar biasa diarea “itunya.”
dari kiri ke kanan, atas: Epo, aku, Trisna, Inem. bawah: Nurul, Zakki, Lukman
itu Inem ngliatian apan lagi?? haha.
Zakki kembali mengambil posisi biasa, dibelakang kemudi yang penumpangnya perempuan semua. Disebelahnya ada Widya dan Shanah. Tepat dibelakang Shanah ada Trisna bersebelahan denganku disebelah kanannya, disusul Epo dan Rara disebelah kananku. Lalu dikursi belakang ada Inem, Aulia, mba Ferdian, dan mba Fitri. Sedangkan pick up dimasteri oleh Irul dengan Zen dan Widad selaku juragan duduk disebelahnya. Dibagian bak, diisi penumpang setia mas Hendro, mas Arva, mas Rurin, Nurul, dan Lukman beserta barang bawaan kami.

Jalanan berliku dan sejuk ditambah badan yang luar biasa capeknya membuat seisi penumpang baik dikursi depan hingga paling depan mobil yang dikendarai Zakki angguk-angguk dan geleng-geleng karena terkantuk-kantuk. Semuanya tertidur disaat sang pengemudi pun mengidap kantuk kadar tinggi. Musik beat yang biasanya diputar pun berubah menjadi musik-musik melankolis dan sendu. Menambah bubuk sirep dan membuat kami semakin terbuai tidur pulas. Zakki kembali dengan keisengannya membalik badan dan mengambil gambar kami yang miring kekiri sperti padi yang kena wabah tikus atau kebanjiran.
ini bukan padi yang kena angin, condong semua kekeke ^^
Sampai di rumah Widad kami disambut dengan tajin jenang grendul yang kalau dirumahku biasanya disebut tajil. Nikmatnya, aku teramat sangat banget suka tajin ini, seperti biasanya dirumah aku pun paling suka. Setelah menyantap tajin makan siang pun kami lahap. Aku benar-benar kelaparan dan melahap semuanya. Hujan masih mengiringi perjalanan kami.
Sehabis sholat dzuhur kami pun berpamit meninggalkan rumah Widad, sang juragan (Widad) pun turut balik ke Malang bersama kami. Kami melanjutkan perjalanan dengan bis ke Probolinggo dari terminal Bondowoso, dari Probolinggo barulah kami melanjutkan ke Malang. Jalanan Bondowoso ke Probolinggo sempat membuat perutku mual lantaran jalanannya sangat berkelok dan panjang. Tapi sangat terhibur dengan pemandangan yang asri dari hutan dan kebun-kebun serta rumah-rumah yang masih terlihat antik. Dari jalanan pula kami lihat pantai pasir putih. Perjalanan Probolinggo Malang kuhabiskan dengan tidur meskipun sepanjang perjalanan itu aku dihimpit dua kali oleh total empat bapak-bapak yang kesemuanya besar dan menyeramkan.
Beberapa hari kemudian baru ku berpikir dan bertanya dalam hati, kenapa kura-kura bisa sampai di kawah Ijen?. Maksudku kenpa hiasan dari belerang yang dijual di kawah Ijen harus berbentuk kura-kura ya?. Oh, barangkali karena kura-kura mewakili beberapa hal yang bisa dikatakan memiliki nilai filosofis seperti: pertama, kura-kura memang lambat, tapi ia punya tujuan. Kedua, kura-kura membawa beban berat sebagai konsekwensi dan tanggung jawab nikmat rumah portable yang selalu melindunginya seperti itu pula bagi para penambang belerang yang harus membawa beban berat berpuluh kilo hingga seratus kilo demi menafkahi keluarganya. Ketiga, ukiran rumah kura-kura sederhana tapi bermakna mendalam, seperti seharusnya manusia yang hidup sederhana dan penuh pemaknaan yang mendalam. Keempat, sejak menetas menjadi tukik, kura-kura telah dihadapkan dengan kehidupan laut yang lepas dan penuh dengan perjuangan hingga usia yang mampu ia capai, sperti manusia yang harus kuat menghadapi batuan granit nan kokoh dan menjulang demi mencapai yang dituju. Ah, kura-kura saja bisa sampai ke puncak Ijen, kenapa aku tak bisa mencapai puncak mimpiku. Kata seorang teman, “bermimpilah setinggi-tingginya, kalaupun jatuh toh kita jatuh diantara bintang-bintang nan indah,” ada benarnya juga yang ia bilang. 
Malang, baru ditulis 5 Janurai 2014.8.46pm Lisvy Nael. f


Perjalanan dalam Kenangan sebuah Gambar

Jalanan yang berkelok-kelok dan disekslilingi hijau tetumbuhan dn pepohonan :d
dilokasi air terjun emerarld :D





di pos pertama, masih komplit men...

merbahkan diri, upaya merebahkan lelah dan kantuk T.T
diatas pose tengah malam, dibawah pose sudah terang ^^
ngempet nunggu sunrise :D
pendekar pendaki Kartini
turun nyokk...

clouds of heaven in aloft Ijen

tandon air sepertinya ;)

pohon yang kering aja keren, apalagi yang idup...haha


rute yang serrrrruuuuuuuu :d





Komentar

  1. perjalanan yang seru, sepertinya :D

    BalasHapus
  2. pastinya, recommended place to travel Yun, mumpung masih di Malang

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer