Revolusi yang Dinanti, Revolusi yang Dikhianati
Judul
Novel : PRODIGY
Penulis : Marie Lu
Penerjemah : Lelita Primadani
Peneribit : Mizan Fantasi
Cetakan : Pertama, Agustus 2013
Jumlah
Halaman : 465 Halaman
ISBN : 978-979-433-806-3
Peresesnsi : Lisvi Nael, Penggiat komunitas Penikmat Buku
BOOKLICIOUS Kota Malang dan Pecinta Riset dan Penulisan (PERS) FISIP UMM.
Novel
dengan genre fiksi-fantasi (fikfan) belakangan sangat subur tumbuh diruang baca
masyarakat kita terlebih novel-novel terjemahan. Bahkan novel fikfan ini banyak
yang sudah atau akan difilmkan seperti Oblivion,
trilogi Hunger Game (Hunger Game, Catching Fire, dan Mocking Jay),
Ender’s Game, The Host, dan lain-lain. Novel-novel yang disebut tadi telah
difilmkan kecuali Mocking Jay kabarnya
tahun 2014 baru akan diproduksi. Kali ini dengan genre yang sama Marie Lu
menulis buku kedua setelah Legend dengan judul PRODIGY.
Novel ini dituturkan dalam kisah dua
orang bernama June dan Day, dan kita dimudahkan untuk mengetahui kisah siapa
yang sedang bercerita karena pada setiap bagian terdapat nama Day atau June
yang menandakan kisah dari sisi mana yang sedang diceritakan. Selain itu font
tulisan untuk dua tokoh pun dibedakan.
Sebagai buku kedua pembaca akan langsung
dipertemukan dalam seting cerita lanjutan, saya kira, karena pada awal buku
menceritakan perjalanan Day dan June menggunakan kereta dari Los Angeles menuju
Las Vegas setelah upaya melarikan diri mereka dari pemerintah Republik. June
merasa bersalah sebagai penyebab kematian keluarga Day, sehingga dia memutuskan
untuk membantu Day menemukan Eden, adiknya yang tak lain satu-satunya keluarga
yang tersisa.
Pergi ke Las Vegas adalah cara yang mereka tempuh
untuk sebuah niat awal mencari Eden dengan meminta bantuan kelompok pemberontak
revolusionis, Patriot. Untuk mendapatkan pertolongan Patriot Day dan June harus
membayarnya dengan membantu Patriot dalam misi membunuh Elector primo yang
baru, Anden, yang tak lain adalah anak dari elector primo terdahulu. Day dan
June keduanya merupakan buronan Republik sehingga Razor, pemimpin patriot,
meminta mereka bekerja sama. Syarat ini mereka terima.
June menjalankan misi dengan mendekati Anden (sang
elector) dengan informasi palsu mengenai pembunuhan Anden oleh kelompok Patriot,
sehingga Anden perlu merubah jadwalnya mengelilingi kota-kota Republik.
Sedengakan Day bertugas membunuh elector dan wajahnya akan disiarkan ke penjuru
Republik. Karena Day bagi rakyat Republik adalah symbol revolusi, sehingga
tugas ini diembankan pada Day. Namun ketika misi sesungguhnya untuk membunuh
sang elector tiba, June telah menyadari fakta bahwa elector baru ini tidak
seperti ayahnya yang kejam sehingga ia harus memberitahu Day untuk menggaglkan
misi. Misi pun gagal.
Day dan June melarikan diri melalui terowongan yang
ujungnya sampai di Koloni. Dalam perjalanan Day dan June berselisih pendapat
mengenai alas an June menginstruksinya membatalkan misi. Day merasa June telah
termakan oleh rayuan dan kebohongan Anden tentang janji membesakan adik Day dan
membubarkan system ujian (untuk masuk militer) bagi semua rakyat yang penuh
dengan kekejian. Sesampai di koloni mereka terkagum-kagum dan merasa asing
dengan megahnya gedung-gedung pencakar langit. Awalnya gambaran Koloni yang
pernah digambarkan ayah Day penuh warna dan cahaya ia akui, namun setelah Kaede
(teman Day di Patriot) menyadarkan bahwa Koloni pun bertindak kejam terhadap
buruh serta siapa penjahat sebenarnya, yakni Razor yang dibiayai Republik (para
senator) untuk membunuh Anden. Karena merasa June benar bahwa Anden benar dan
mereka dimanfaatkan Razor ia pun memutuskan kembali ke Republik membantu sang
elector muda.
Sejauh membaca ada dua hal yang menggangu saya dalam
novel ini. Pertama, seting waktu
dalam cerita ini tidak dijelaskan pada tahun berapa sehingga untuk mendapatkan
gamabaran kita benar-benar harus membaca cerita sampai akhir supaya kita
mendapatkan gambaran imajinasi kita sendiri. Kedua, novel ini terjemahan dan entah karena upaya penerjemah
melugas dan meyederhanakan dialog maupun narasi terdapat dialog dan narasi yang
ditulis dalam bahasa kurang baku atau nyaman seperti kata “bikin” dalam dialog
“bisa dimengerti. Penerbangannya memang bikin stress,” atau ini hanya perasaan
saya?. Ketiga, imajinasi Lu yang
sangat “kelewatan” tentang kondisi dunia yang entah tahun berapa itu, membuat
saya bingung harus tertawa atau manggut-manggut mengikuti plotnya (akan saya
cantumkan sedikit dibawah).
Disisi lain harus saya akui Lu piawai dalam
memberikan cerita yang mengalir dan mengejutkan. Keterpaksaan Day dan June
untuk bergabung dengan Patriot merupakan kejutan pertama dalam cerita. Kejutan
lainnya dengan bertemunya Day dengan Tess di Patriot yang telah dianggap
sebagai saudarinya, Tess yang jatuh cinta pada Day memilih berpisah dengannya
dan kembali ke Patriot ketika misi pembunuhan Anden gagal. Romansa Day dan June
salain dikejutkan dengan kehadiran Tess juga dibumbui dengan sikap Anden
terhadap June yang mengharapkannya menjadi pemimpin senator (yang juga menjadi
bayang-bayang kemanapun sang eleoktor pergi). Kejutan lainnya adalah ketika Day
dan June akhirnya berbalik membantu Republik dan membuat Razor ditahan.
Dari semua kejutan, dua hal lagi yang menjadi bagian
paling saya suka. Pertama, Pada
halaman 158 Lu mendeskripsikan keadaan dunia yang benar-benar sudah terjungkir
balik. Amerika Serikat yang saat ini menjadi Negara adidaya justru berada
dititik rendah dengan terpecah menjadi Republik dan Koloni. Sedangkan
wilayah-wilayah yang saat ini paling miskin dan tidak mungkin untuk ditempati
menjadi tempat-tempat adidaya dan sangat maju seperti Afrika yang menjadi salah
satu Negara adidaya bersama China. Antartika yang seluruh daratanya dilapisi es
menjadi tanah yang paling ingin dan sering dikunjungi karena semua es telah
meleleh dan menyebabkan banjir besar (bencana inilah yang memisahkan Amerika
Serikat menjadi dua). Setelah bencana mega dahsyat sengatan matahari yang
melelehkan seluruh lapisan es di bumi akhirnya matahari bersinar normal kembali
dan menyebabkan kejungkir-balikkan dunia. Ini kejutan yang “kelewatan” untuk
dibayangkan dalam otak normal tapi tidak untuk yang imajinasinya berputar. Kedua, tebak berapa usia Day dan June?,
usia Day tak lebih dari 20 tahun dan usia June, baru 15 tahun, ini mengejutkan
dan menarik bagaimana usia muda-mudi mampu menggerakan revolusi.
Merujuk pada hal-hal yang saya
poinkan, tetap saja novel ini menarik untuk dibaca dan dibandingkan dengan
karya-karya fiksi fantasi yang lain. Sebuah imajinasi mengenai revolusi yang
dinantikan oleh rakyat Republik dan dikhianati oleh pemimpin kelompok
pemberontak revolusionis yang paling dihormati. Novel ini bisa diajak teman
berimajinasi dan mengisi waktu senggang ketimbang sendirian.
Resensi ini bisa kamu cek juga di http://www.rimanews.com/read/20140113/136400/revolusi-yang-dinanti-revolusi-yang-dikhianati dan http://mediamahasiswa.com/sastra/resensi/2014/01/16/revolusi-yang-dinanti-revolusi-yang-dikhianati.html
cover:

Komentar
Posting Komentar