Tiya, Tentang Perjalanan Menuju Tanah Keabadian



Ketika kehidupan tidak menawarkan apa-apa selain kebiasaan dan keseharian yang biasa kita bertanya apa makna sebenarnya kita dihidupkan ke dunia?. Bukankah semuanya juga akan berakhir karena tak ada yang abadi di dunia ini?. Semua fana, tak ada keabadian selain Sang Wujud Abadi itu sendiri. Maka tak ada yang istimewa dari hidup bersanding dengan Sang Abadi karena jiwa kita kekal dalam kebahagiaan yang tiada ujung tiada akhir, karena harapan pun kadangkala berakhir, tetapi tidak dengan kekekalan bersama Sang Kekal.

            Tiya adalah sebuah sosok yang diterima dalam tubuh seekor burung beo. Samarpan memulai kisahnya dari sebuah kehidupan yang tidak menawarkan kebaruan selain kebiasaan dan keseharian yang biasa, kehidupan disebuah pohon beringin tua. Dengan dituntun oleh jiwanya Tiya pun tergerak untuk memulai perjalanan dalam mencari ketidakbiasaan dan makna yang tak ia dapat dari kebahagiaan monotonnya di pohon beringin bersama dengan kawan-kawan burung seperti Merpati dan Perlatuk yang bijak, burung hantu yang selalu bekerja malam hari, dan burung-burung lainnya. Kebahagiaan sederhana itu awalnya terlalu memabukkan untuk ditinggalkan, namun kemurnian dan pencarian menuntunnya untuk mendapatkan lebih karena “Anda lebih dari apa yang andan pikirkan, dan anda dapat meraih lebih dari yang dapat andai capai sekarang.”

            Tiya menemukan keberaniannya untuk meninggalkan sangkar nyamannya di pohon beringin tua. Perjalanan yang dimulai pun diawali dengan perjumpaannya dengan sekumpulan anak-anak yang sedang bermain bola dengan aturan yang bebas. Semua berhak mengatur dan memiliki aturan, sehingga tak ada yang didengarkan maupun mendengarkan karena semuanya berbicara. Namun merusak yang sudah menjadi cirinya bersepakat untuk mengejar dan mendapatkan Tiya ketika sekumpulan anak-anak itu melihat Tiya, mode merusak pun: on. Tiya berhasil lolos dengan muslihat berpura-pura pingsan dan jatuh ke tanah sampai kemudian dengan mengejutkan ia mulai mengepakkan sayapnya dan pergi sesegera mungin meninggalkan kerumunan yang penuh dengan caci dan umpatan.

            Tiya terus terbang mengikuti suara yang menunjukkannya jalan yang terus mengiangkan sebagai pemandu dalam jiwanya. Tiya terus terbang hingga ia turun setelah menembus celah kecil pada sebuah gunung. Betapa ia takjub dan tertegun melihat hamparan tanah hijau dan penuh wewarna lainnya. Suara-suara nyanyian yang merdu dan memabukkan pun terdengar indah mengalun. Inilah negeri para Fay, yang indah bukan hanya dari tampilan namun suara dan tutur kata maupun tutur lakunya lembut memikat. Namun ada hal yang mengejutkan Tiya. Jari-jari Fay setejam silet. Ini bukan sebuah slogan seperti dalam infotaimen atau acara gossip di teve. Bahkan cara yang tidak lazim digunakan para Fay untuk mengungkapkan kasih sayang dan cinta mereka. Dengan memeluk yang melukai karena cakar mereka yang setajam silet. Tiya pun tersadar bagaimanapun indahnya tempat ini dan para penghuninya memiliki suara yang lembut menggoda akan tetapi tidak ada mahluk lain yang tinggal didaratan ini selain para Fay. Mereka memang cantik tetapi menakutkan. Fay pun mendapatkan sebuah sayatan di lehernya yang membuat segaris merah diatas bulu hijaunya. Merasa tidak aman dan tertipu akan kecantikan Fay pun terbang meninggalkan daratan para Fay. Satu hal yang bisa Tiya tangkap, bahwa kecantikan bukanlah segalanya dan ia pun mendapat pelajaran untuk lebih bersabar menghadapi orang lain dan bertutur lebih lembut dari biasanya dia.

            Setelah Fay terbang jauh dan merasa lelah, ia pun hinggap pada sebuah dahan pohon. Ia heran bagaimana dibawahnya banyak bebatuan yang serupa segitiga. Keanehan lain muncul setelah Tiya menyadari bahwa bebatuan itu bersuara, dan bergerak bagian atasnya namun bagian bawah mereka terbenam dan tak bisa bergerak atau berpindah. Inilah negeri para Zary. Para Zary selalu meludah dan mencaci maki sebagai ungkapan mereka untuk mengisi kehidupan yang berharga. Tiya pun sempat marah lantaran kena ludah dan terus dihina. Semakin ia marah semakin ia tak mampu menggerakkan kakinya. Aha, semakin dia marah maka semakin dibenamkannya kakinya. Menyadari akan petaka kemarahan, Tiya pun segera mendengarkan Hans, penuntunnya, untuk meninggalkan negeri para Zary. Tiya pun terbang dengan tergesa.

            Tiya kembali terbang jauh dan tinggi sampai kelelahan kembali melandanya. Ia hinggap pada sebuah dahan diatas pohon. Ia ditegur lantaran dianggap sombong oleh burung-burung yang menurut Tiya aneh dan bodoh, burung-burung berjalan. Bagaimana mungkin burung berjalan sedang ia diciptakan dengan sepasang sayap yang harus dikepakkan? Dalam batin Tiya bergemuruh. Ia pun diingatkan oleh burung-burung yang berjalan itu bahwa ia akan mendapat masalah jika terus diatas dahan. Sang Burung Besar pun datang, lantang saja Tiya mendapat teguran oleh si Burung Besar. Burung Besar adalah pemimpin para burung revolusioner. Mereka memilih untuk berjalan ketimbang dengan sayap mereka terbang, inilah gagasan revelosioner mereka. Mereka menganggap bahwa menampakan bagian bawah kepada burung lain atau mahluk lain adalah sebuah tindakan penghinaan dan dinilai tidak sopan. Entah kekuatan apa yang mampu menarik Tiya untuk merasa takut dan mematuhi tanpa alasan ucapan Burung Besar. Tiya pun menetap untuk beberapa saat dengan berpikir untuk menjadi seorang revolusioner baru dengan membuat yang lain terbang. Tiya terkadang terbang pada pertengahan malam untuk melegakkan nalurinya sebagai burung bebas. Karena sebagai burung terbang adalah kebebasan hakikat mereka. Tiya kedapatan terbang oleh Burung Besar, dan Tiya diusir. Dengan ketakutan Tiya pun terbang meninggalkan tempat para burung revolusioner.

            Tiya terus terbang hingga ia merasa lelah kembali dan hinggap pada sebuah pohon. Ia heran dengan makhluk-makhluk yang terlihat sedih tiada kepalang dibawahnya. Tiya bertanya pada salah satu yang lewat. Mungkinkah mereka terlihat sedih lantaran ada kerabat mereka yang meninggal, sebuah bencana atau hal-hal yang harusnya memang pantas untuk ditangisi. Kesemua alasan yang nampaknya wajar untuk ditangisi dan ditanyakan Tiya pada salah satu makhluk yang lewat itu terbantahkan. Tiya menyebut mereka Leakton, karena mereka menyedihkan. Ternyata mereka adalah sekelompok makhluk yang merasa mulia dengan menjadikan diri terhormat ketika mampu merasa sedih dan bersimpati menangiskan hal-hal derita dan menyedihkan yang diamali orang atau makhluk lain bahkan dunia. Mereka memberikan penghargaan bagi yang paling bersedih atas hal-hal yang mereka luar biasa bahkan untuk menangis tanpa alasan. Mereka terlihat menyedihkan bagi Tiya karena menyiakan kehidupan yang tak hanya diisi dengan kesedihan. Tiya pun kembali terbang.

            Tiya merasa heran dengan Mr. Ambiger ketika makhluk itu memertahankan dengan kekuatan pucuk gunung yang bahkan menyiksanya dari lapar dan lain-lain. Tetapi itu adalah kehormatan yang telah ia raih. Ia cukup dan merasa tak kekurangan meskipun ia sendiri dan Nampak kesepian karena ia menjadi kebanggaan bagi keluarganya karena mampu menjadi yang diatas. Tiya menyadari adanya begitu banyak makhluk serupa tuan Ambiger yang berjuang untuk mncapai posisi tuan Ambiger dengan saling menjatuhkan dan menyikut. Sehingga pemandangan yang tampak adalah menyedihkan sekaligus lucu. Mereka mengingikan mencapai puncak, bahkan ada yang sudah hampir mencapai puncak harus jatuh berguling lantaran ditabrak oleh yang lainnya dan mereka akan kembali dari bawah lagi. Ah, sungguh sebuah kehormatan yang tak perlu begitu menurut Tiya. Tiya pun mengerti dan ternga kembali.

            Tiya terbang dan bertemu dengan seekor kupu yang menurutnya adalah mahluk paling tidak konsisten dan plin plan. Mereka hidup terus berubah-ubah, sebulan menjadi larva, ulat, kepompong, dan kupu-kupu. Mereka mahluk tak konsisten. Lozo, mereka merasa takjub dengan keagungan sayap yang dimiliki Tiya dan bersama kaumnya menobatkan Tiya sebagai tuan mereka yang dengan setia akan mereka lindungi dan layani. Tiya pun tergiur dengan kenikmatan sebagai raja baru. Namuan segera saja tuan Hans, si angsa penuntun Tiya menadarkannya untuk segera terbang dan meninggalkan kenikmatan semu itu. Dengan malas dan merasa enggan Tiya pun terbang meninggalkan mereka.

            Terbang menjadi sebuah perjalanan yang Tiya belum tahu akan berujung kemana. Tiya hinggap pada sebuah dahan dan melihat para Dinding, tanah dimana makhluknya serupa kambing dengan dua kaki berjalan tegap. Beberapa diantara mereka terlihat ada yang memiliki hidung super panjang sebagian tidak. Dan dua diantara pemilik hidung panjang terlihat menggelikan bagi Tiya karena perkelahian menggunakan hidung mereka. Ternyata mereka berkelahi untuk merebutkan kehormatan sebagai pemilik hidung panjang yang kuat. Sebuah kehormatan yang lebih dari segalanya itu memicu perkelahian yang lebih besar ketika hidung salah satu Dinging mengenai yang lain dan seterusnya. Mereka pun bubar setelah sore yang menjelang membuat mereka dipanggil orang tua masing-masing untuk pulang. Tiya pun terbang kembali.

            Kehormatan, kecantikan, dan keindahan menjadi hal yang menggelikan akhri-akhirnya bagi Tiya. Tiya yang merasa lelah dan lapar karena sekian lama terbang pun hinggap pada daratan yang terdapat banyak buah-buah membusuk dan terjatuh ditanah sedang didahan-dahan juga sangat terlihat sedap. Dibawah pohon-pohon buah itu banyak terdapat bangau. Skazo, si bangau pemimpi yang terus menengadah dan tak memandang kebawah sebagai suatu kehormatan yang harus dipertahankan. Terus memandang buah yang ranum tanpa mampu meraihnya meski lapar menjadi pilihan daripada harus memakan buah yang segar yang baru terjatuh dari pohon. Salah satu Skazo meminta Tiya untuk dipetikkan satu buah yang menggantung setelah satu buah yang lama dinantikan Skazo jatuh. Namun Tiya malah memakan buat tersebut karena menganggap kehormatan yang diangungkan Skazo itu tak beralasan dan kekanak-kanakan. Tiya pun terbang dengan membiarkan Skazo tetap kelaparan, meskipun sedikit sesal hinggap dalam dada Tiya.

            Satu lagi kehormatan yang menggelikkan tamak dalam pemandangan Tiya. Gunung-gunung es yang terus meleleh dan tenggelam kelaut tampak lucu lantaran makhluk-makhluk berkaki dua yang rupanya mirip domba berloma memerebutkan gunung-gunung es tersebut. Bagi mereka gunung es adalah kehormatan. Dan Tiya merasa lucu bagaimana mereka dan makhluk-makhluk yang temui sangat teguh dan percaya diri akan kehormatan yang tampaknya tak perlu karena membahayakan nyawa mereka sendiri.

            Perjalanan Tiya belum berakhir hingga ia terus meninggalkan makhluk-makhluk beraneka tingkah lakku tanpa bertanya dan berhenti hanya mengamati sesekali. Para Gua Salju, Ekor-ekor burung yang menyala dan benar-benar membuat lingkungannya menyala lantaran terkena sambaran ekor-ekor mereka yang mau menolong memadamkan api, tentang keledai yang melarikan diri, daratan para pengejar bayang diri sendiri, kebun tempat rumput liar semakin memperburuk perbudakan, orang-orang bijaksana yang tampak lucu karena perdebatan akan penemuan siapa diantar mereka yang paling penting dan dapat dimanfaatkan untuk perubahan dunia. Tiya hanya mampu melihat dan kemudian terbang tanpa meninggalkan jejak kisah disana, hanya pengamatan. Hingga Tiya sampai pada daratan kekal yang harus ia lewati sendiri tanpa pemandu, tuan Hans.

            Tiya Nampak tidak percaya bahwa gravitasi membuatnya seperti magnet yang tertarik begitu kuatnya hingga susah baginya untuk terbang. Ia sangat lapar dan melihat biji-bijian menumpuk seketika, namun ia menahan diri karena biji-bijian itu bukan miliknya dan segeralah biji-bijian itu lenyap dari pandangan. Begitupun makhluk-makhluk lain yang pernah ia jumpai dalam perjalannya muncul bergantian dan menariknay tetapi berhasil Tiya abaikan. Hinga ia harus menghadapi tuan Hans yang berubah menjadi dua. Tuan Hans yang Tiya tak tahu mana yang benar dan yang bukan. Tiya harus memutuskan dengan batinnya. Sedangkan egolah yang sesungguhnya sedang ia hadapi. Kemudian ia tersadar dan melihat tanah keabadian sebagai tujuan akhir yang paling berarti. Segalanya tak berarti kecuali Sang Kekal. Tiya pun berhasil mengepakkan sayap dan terbang hingga ia menuju rumah mulanya, Beringin tua. Ia disambut oleh kawan-kawan yang tinggal di pohon beringin. Namun ia acuh saja dan menjawab mereka dengan rendah hati dan terlihat bijaksana. Ia mengerti bahwa keabadianlah yang harus ia miliki dan semua yang Nampak indah, maupun dibanggakan sebagai kehormatan semuanya semu. Ia mengerti apa yang selalu diucapkan tuan Hans, “Tiya, kamu lebih dari apa yan kamu pikirkan, dan kamu bisa memeroleh lebih dari apa yang kamu capai saat ini.” Perjalanan mengajarkan Tiya segala yang ia tak dapat dengan hanya diam dalam aman di pohon beringinnya. Ia harus terbang mencai makna.


Komentar

Postingan Populer