Ken Arok, Perjalanan Menuju Kekuasaan
Judul
Novel : Ken Arok, Cinta
dan Takhta
Penulis : Zhaenal Fanani
Peneribit : Tiga Serangkai
Cetakan : Pertama, Mei 2013
Jumlah
Halaman : 533 Halaman
ISBN : 978-602-9251-19-7
Peresesnsi : Lisvi Nael, Penggiat komunitas Penikmat Buku
BOOKLICIOUS Kota Malang dan anggota Pecinta Riset dan Penulisan (PERS) FISIP
UMM.
Banyak
penulis yang mencoba menceritakan kembali sejarah tanah kelahirannya, begitupun
dengan nama Zhaenal Fanani yang mengisahkan kembali cerita yang paling
legendaries di Kota Malang, Ken Arok. Novel setebal 533 halaman ini mengisahkan
kisah hidup seorang Ken Arok dari lahir hingga penggulingan kekuasaan Tunggul
Ametung di Tumapel. Tak lupa juga mengenai kisahnya dengan Ken Umang dan Ken
Dedes yang porsinya masih kalah dibandingkan dengan perjalanan Ken Arok menuju
kekuasaan.
Dikisahkan pada suatu malam Ken Ndok (Astia) yang
merupakan istri seorang Maharesi (pemilik padepokan), Resi Agung Sri Yogiswara
Girinata, membuang anaknya disebuah Setra (pemakaman). Anak yang dihasilkan
dari pasangan perselingkuhannya dengan Gajah Para, salah satu murid dari
padepokan yang suaminya pimpin. Ken Ndok yang merasa menghianati suaminya pergi
dari padepokan dan hidup hingga melahirkan ditepi aliran sungai Brantas. Ia
berpendirian jika anaknya yang ia lahirkan dibuang ke setra memang ditakdirkan
alam maka ia akan hidup dengan diselamatkan orang namun jika alam tidak
berkehendak, maka itu adalah takdir alam.
Temon adalah seorang anak yang diasuh oleh seorang
pencuri kelas kakap bernama Ki Lembong. Ia menemukan Temon ketika sedang dalam
persembunyian, disebuah setra tatkala
warga mengejarnya akibat aksi pencurian yang diketahui. Ki Lembong percaya jika
ia membawa pulang bayi itu, ia akan mendatangkan banyak keberuntungan karena
disalah satu tangan sang bayi terdapat sebuah simbol cakra yang mengandung arti
kebesaran. Temon adalah nama yang ia berikan untuk si bayi yang dibuang oleh
Ken Ndok di sebuah setra. Mencapai usia lima belas tahun Ki Lembong memberikan
kebebasan kepada Temon untuk menggariskan sejarahnya sendiri. Temon pun pergi
meninggalkan rumah Ki Lembong tanpa paksaan. Temon bertemu dengan seorang
pejudi bernama Bango Samparan. Dari Bango Samparan ia mendapatkan nama baru,
Ken Arok.
Hidup bersama Bango Samparan membuatnya terjerumus
dalam dunia perjudian. Pencurian pun ia jalankan kembali demi memeroleh modal
berjudi. Bango Samparan yang pantang mencuri meskipun seorang tukang judi pun
mengusir Arok dari rumahnya. Arok menemui kawan lama bernama Tita, seorang anak
kepala wanua (dusun) Seganggeng, Ki Sahaja. Ia mengajak serta Tita dalam aksi
pencurian dan judi. Melihat perubahan anaknya, Ki Sahaja pun mengirim keduanya
ke padepokan Mpu Palot untuk belajar sastra dan ilmu kanuragan. Tetapi keduanya
kabur dan melanjutkan kebiasaan mencuri bahkan mereka pun merampok dan menodong
orang-orang yang berjalan di Panitikan, sebuah padang.
Aksi besar untuk mencuri di Pakuwon Tumapel pun
direncanakan. Sebuah Pakuwon baru yang dikepalai oleh Tunggul Ametung setelah
ditunjuk raja Kadiri, Sri Kertajaya. Dalam perjalanan ini ia dihampiri seorang
empu, Bajangkara atau yang lebih dikenal sebagai Gendeng Panuntun yang buta.
Gendeng Panuntun memberikan keterkejutan bagi Arok dan Tita karena ia tahu banyak
hal tentang mereka bahkan rencana pencurian ke Tumapel. Pencurian ke Pakuwon
pun dilangsungkan dengan aman mulannya, namun aksi mereka diketahui dan mereka
dikejar-kejar hingga Aok dan Tita berpisah. Arok diselamatkan dengan
disembunyikan oleh Gendeng Panuntun dari kejaran prajurit daari Tumapel.
Penyelamatan ini membuat Arok mendengarkan gendeng Panuntun dan mengikutinya ke
padepokan Dan Hyang Lohgawe untuk dibina.
Atas perintah Tunggul Ametung Kebo Idjo sebagai
Kepala Penawal dan Senopati Dalem Ragatantra membawa paksa Ken Dedes dari
manggalanya setelah Tunggul Ametung tak mendapati Mpu Purwa di manggalanya.
Panawijen (dusun Ken Dedes) memanas dengan aksi Tunggul Ametung. Namun kejadian
ini tak sampai membuat keributan karena warga mampu diredam oleh Mpu Purwa.
Tumapel yang semakin Berjaya secara ekonomi dan
dianggap aman mulai mengalami pelik politik akibat Kadiri meminta upeti secara
berlebihan. Cara kasar dan paksaan pun dilakukan prajurit agar mendapatkan
upeti. Perilaku Tunggul Ametung yang
sendang berpesta pun mulai diperhatikan. Mpu Gandring yang tak lain pembuat
senjata kerajaan pun mulai memengaruhi Kebo Idjo untuk menggulingkan Tunggul
Ametung yang merendahkan kaum Brahmana. Ramadhyaksa Gentasamara sebagai seorang
penasehat dan telik sandi (mata-mata)
Kadiri pun mulai memengaruhi Ragatantra untuk pula menggulingkan pemerintahan
Tumapel. Konspirasi-konspirasi politik untuk menggulingkan Tunggul Ametung pun
banyak direncanakan, tak luput oleh Ken Arok yang didukung Dan Hyang Lohgawe.
Setelah membuat berbagai kerusuhan di Tumapel dengan
menjarah upeti untuk Kadiri, bahkan Ken Arok bersama teman-temanya mencuri
persenjataan Tumapel dari tempat Mpu Gandring, Ken Arok pun memasuki Pakuwon
menjadi seorang prajurit atas jaminan Dan hyang Lohgawe. Karena berhasil
menuntaskan persoalan pencurian persenjataan dan penjarahan, Ken Arok pun
diangkat menjadi wakil Kebo Idjo, yang kemudian membuatnya semakin dekata
dengan Ken Dedes. Disaat Kebo Idjo, Ramadhyaksa Gentasamara dan Mpu Gandring
menjalankan maker untuk menggulingkan Tunggul Ametung, Ken Arok memanfaatkan
momentum itu. Setelah berhasil mencuri keris pusaka yang dibuat Mpu Gandring
untuk Kebo Idjo yang belum sempurna, Keris itu ia gunakan untuk membuat
perpecahan antara Mpu Gandring dan Kebo Idjo, karena Mpu Gandring menyangka
Kebo Idjo yang mencurinya. Keris itu pula yang menumbangkan Tunggul Ametung dan
Kebo Idjo dalam semalam dan menjadikan Ken Arok di elu-elukan sebagai pahlawan
serta dipercaya mengisi posisi akuwu setelah kematian Tunggul Ametung.
Ada beberapa hal yang menurut saya menarik mengenai
novel ini. Pertama, dari judul saya
kira akan mendapatkan kisah yang mengharu biru dan sedikit vulgar (seperti
biasanya novel-novel berlatar masa kerajaan) tentang perjalanan Ken Arok menuju
kekuasaan dan mendapatkan wanitanya, Ken Dedes. Namun, cerita cinta didalam
novel ini sangat sopan, dan tak hanya ada Ken Dedes dalam cerita Arok tetapi
ada juga Ken Umang yang dikenalnya sebelum perjumaan dengan Ken Dedes. Kedua, dalam novel ini diceritakan pula
kisah Arok dari kecil bahkan dari rahim mana ia berasal. Ketiga, peran penting seorang Gendeng Panuntun yang tak luput dari
kisah.
Penulis mampu menceritakan sebuah sejarah dengan gaya
dan cara ringan, tak telalu berbelit-belit meskipun tak jarang deskripsi latar
yang mendayu pun tak luput dicantumkan. Kisah dalam novel ini mengalir tanpa
terlalu banyak dialog dan lugas karena penulis menggunakan sudut pandang orang
ketiga sebagai pencerita yang serba tahu. Entah luput atau belum diceritakan
mengenai lambang cakra yang ada disalah satu tangan Arok yang membuatnya sangat
dipercaya baik oleh Ki Lembong, Bango Samparan, Gendeng Panuntun, maupun Dan
Hyang Lohgawe.
Kisah Ken Arok ini menjadi gambaran dan pelajaran
bahwa dunia kekuasaan yang penuh intrik dan politik akan selalu berjalan entah
dengan sistem apapun. Ini juga menjadi cermin untuk keadaan pemerintahaan
negeri kita sekarang, dimana kekuasaan selalu memabukan dan kekuasaan yang
berlangsung lama akan cenderung “memabukan” seperti Tunggul Ametung yang dielukan
diawal dan dimabukkan kekuasaan sehingga cenderung semena-mena. Selain
pelajaran politik didalamnya juga terdapat ajaran moral dimana sebuah keburukan
dapat kita setir kearah kebaikan seperti bagaimana Arok yang bisa dikatakan
seorang criminal pada akhirnya berjuang demi rakyatnya. Akhirnya sayang rasanya
jika saya yang merantau di kota Malang dan melewatkan membaca novel ini yang
menceritakan orang kebanggaan kota Malang, Ken Arok.
cover:

Mantap keren selamat yaaa dimuat di koran bhirawa :)
BalasHapusselamaaat.. :)
BalasHapus*ngiri
syukriyah... mas Ridho dan Yunie :)
BalasHapuskenapa ngiri coba (aku yang ngiri sama kamu udah banyak prestasi hehe)